Kado Ini Aja Cukup….

.
Setiap tanggal 7 April, saya mengulang lagi hari kelahiran. Dan bulan April tahun ini untuk yang ke – 38 kalinya. Meski tidak pernah dirayakan, bikin nasi kuning pun tidak, apalagi pesta ulang tahun seperti umumnya. Tapi, kalau boleh jujur, meski tak harus dirayakan dengan sepiring nasi kuning apalagi pesta – pestaan…sebaris doa tulus dari orang – orang terkasih agar senantiasa seger waras wiris bisa ngulek rujak tiap hari itu sudah cukup..syukur – syukur ada hadiah kejutan dari istriku tercinta berupa bisikan mesra : “Mas, selama hayat dikandung badan ku kan setia menemanimu menempuhi jalan ini, meski kadang berlubang, penuh kerikil dan mendaki…” Sambil menyerahkan sebuah jam tangan (meski murah), benda yang sejak remaja dulu selalu ingin saya beli tapi belum pernah kesampaian hingga saat ini. Itu saja..!
.
Salam.
Bakulrujak

About Ingatan…….

Ada banyak hal yang tersimpan rapi di memori ingatan kita, menyangkut hal – hal baik maupun hal – hal yang buruk. Yang telah kita lakukan terhadap orang lain dan apa yang dilakukan orang lain terhadap kita. Tetapi banyak pula yang terlupakan begitu saja tanpa kita sadari. Entah karena waktu yang terus bergulir seiring musim yang juga datang silih berganti. Atau bahkan yang baru saja terjadi dan dialami 5 menit yang lalu.
.
Kita memiliki ingatan yang utuh tentang mereka yang kita sayangi di rumah sehingga ada kerinduan yang dalam mengajak untuk pulang saat kita pergi. Kita juga ingat peran dan tanggung jawab yang mesti dipikul oleh bahu yang sempit ini sehingga kita pun harus lekas beranjak melangkahkan kaki menguber rezeki.
.
Contoh sederhana yang lain adalah pertemanan kita di media fesbuk ini. Senyatanya kita berteman. Bayangkan jika fakta pertemanan ini tidak masuk dalam ingatan kita..? Barangkali kita akan canggung untuk saling ngobrol atau sekedar berbagi jempol. Kita saling mengingat nama dan sederet informasi yang melengkapi di profil kita. Kemudian dengan atau tanpa disadari kita mulai membangun kesan tentang berbagai kisah dan peristiwa atau pengalaman yang dibagikan dari status. Kesan yang pada akhirnya menciptakan ruang di ingatan kita untuk menjalin kedekatan. Pastilah kita bisa tertawa lepas, bergurau dengan candaan lucu yang membuat kita (barangkali) ngikik sendirian di layar monitor. Kita saling mengenal, saling terkesan, saling mengingat, juga saling menyematkan masing – masing kita sebagai siapa.
.
Kita mengenal_dan tentu saja mengingat yang namanya wadah, tempat dimana kita biasa mengisi,menyimpan atau meletakkan sesuatu. Dalam budaya Jawa, manusia seringkali disebut sebagai wadagh (baca : wadah) yang terdiri dari wadagh kasar (raga jasmaniah) dan wadagh halus (rohani). Agar tetap tampak dan tampil apik, tentu saja wadah tersebut harus senantiasa dirawat. Kita mandi, membasuh badan dari atas sampai ke bawah, menyiramnya dengan air, pakai sabun wangi, rambut dikeramasi pakai shampoo bukan rinso, berhenti sejenak ketika lelah, beristirahat saat sakit, berolahraga supaya bugar, dan kegiatan keseharian lainnya tentulah karena menjaga dan merawat badan (wadah kasar) agar tampak menawan dan sehat. Semua itu kita lakukan pastilah karena menginginkan adanya kebaikan bagi wadah kasar kita, yakni tubuh/raga. Jare sopo..?? Ya jareku ..hahaaa..
Kita mengalami hal – hal buruk terjadi dalam tubuh, itu karena kita melakukan kadar berlebihan terhadap tubuh itu sendiri. Kita seringkali abai terhadap takaran tubuh yang semestinya kita mengerti… Jare sopo meneh iki..?? Yo jareku meneh..ben gampang urusane..hahahaa..
Kita jatuh sakit,bisa jadi karena kelelahan atau mengidap penyakit bisa jadi karena berlebihan mengkonsumsi makanan tertentu. Ngantukan, itu bukan karena makan kangkung tapi karena kebanyakan makan nasi yang sangat tinggi akan indeks glikemik atau zat yang mampu menaikkan kadar gula darah. Sehingga tak heran ketika Anda banyak makan nasi maka Anda pun merasa ngantuk dengan mudahnya. Kangkung sendiri justru punya manfaat sehat mampu menurunkan tekanan darah dan menyehatkan pencernaan. Ini karena kangkung banyak mengandung kalium. Nek iki jare guru biologi..hahahahaa…
.
Seperti halnya wadah jasmani, rohani juga perlu dirawat dan merawatnya tentu berbeda dengan wadah tubuh. Manusia dibekali akal sekaligus nafsu yang sejatinya memang tidak akan pernah bisa hilang. Tapi luar biasanya Allah, Dia juga selalu memberikan cara terbaik agar wadah kita selalu terjaga. Salah satunya dengan puasa. akal dan nafsu tetap masih ada, tidak akan pernah hilang tapi mampu dijaga dan ditumpulkan oleh sebab puasa.(Nek iki jare Gusyai Muhammad Nurul Bannan..)
.
Merawat wadah rohani, intinya jangan sampai hilang ingatan alias nge – blank. Karena ingatan adalah pemantik sekaligus nyala rohani, nyala jiwa yang harus terjaga koko eksistensinya. Ingatan menjadi gerbang pintu masuk pemahaman atas realitas yang lebih utuh.
Ada banyak hal yang mendasari kita menyebut orang gila sebagai orang yang hilang ingatan. Kita akan susah menemukan sebuah sosok yang kurang waras manakala ia hanya tinggal tubuh, fisik semata. Fisiknya ada, tapi tidak dengan jiwanya. Jadi, jika ‘ingatan’ kita lemah atau malahan tanpa ingatan apapun, mungkin langkah kita pun tak tentu arah sebagaimana si kurang waras yang sering kita jumpai wira-wiri di jalanan. Karean tanpa ingatan manusia bukan siapa – siapa.. Nek iki jare Pak Eha sing tak peloni statuse saben dina..
.
Ya wis.. ini yang teringat ketika mendadak nglilir, ngopi, nyumet rokok ngrasakna urip kok kayak gini.. Jangan diingat – ingat lho ya..
.
Bakulrujak

(ber)Terima kasih itu Penting…

Ada peristiwa beberapa hari lalu yang lupa belum saya tuliskan sebagai bahan pembelajaran ; utk saya khususnya..
Seorang ibuk-ibuk, setengah tua lah, entah dari arah mana, karena saya kurang memperhatikan, ujug-ujug sudah berdiri di depan gerobak tmpat saya jualan, tampak tergopoh dengan dua buah kardus ukuran lumayan besar.
” Mas, nitip kardus ini ya..” berkata si ibu entah kepada siapa. Saya tolah toleh kiri kanan nggak ada orang lain, kecuali saya sama si ibu. Berarti yang dimaksud “Mas??” oleh si ibu itu adalah saya.Pikir saya.
” Oh,iya, Bu.Silahkan taruh aja di bangku situ..!’ jawab saya mengiyakan sekaligus menyetujui permintaan si ibu.
“Cuma sebentar kok,Mas. Biar di sini saja. ” berkata si ibu itu lagi sambil meletakkan kardus kardusnya ke atas tanah, plus sekantong kresek hitam besar bawaan lainnya di atas diletakkannya pula di atas kardus. Beres. Lalu si Ibu berlalu menuju warung makan,mungkin ingin membeli lauk pauk atau sayuran siap santap utk dibawa pulang. Setelah itu saya tidak memperharikan lagi..
Tak berapa lama, si Ibu muncul lagi. Di tangan kanannya tertenteng kresek kecil warna hitam. Tampaknya dugaan saya benar, si ibu membeli lauk pauk atau sayuran siap santap. Itu terlihat dari kreseknya yang agak ‘klimis’ bekas kuah minyak.
Dibelakangnya menyusul seorang gadis tanggung mengendarai sepeda motor matik. Kelihatannya calon penjemput si Ibu, sepertinya anaknya. Agak mirip soalnya.heheee
Si Ibu terlihat mengambil kardus-kardusnya yang tadi dititipkannya. Lalu menumpuknya ke atas jok motor. Sementara si pengemudi tetap nangkring di motor sambil ‘njagani’ supaya motor tidak tumbang. Kardus selesai tersusun, si Ibu itu kemudian nyingklak ke atas jok, sambil tangannya memegangi kardusnya. Sedetik kemudian…ndru
uuunnnnnnnn…! motor berikut kedua penumpang plus kardus kardus itu melaju..
Yang saya heran, kok ya si Ibu itu nggak ada ‘terima kasih terima kasih’ nya babar blas. Mesem sithik we ora. Hahaaha…Jiaaannn wong kok nggak ada basa basinya sama sekali.hehee
Mungkin si ibu tadi lupa “berterima kasih” karena sedang buru-buru, begitu pikir saya berusaha ‘tampil beda’ dengan berprasangka baik sama si ibu.
Persoalannya, bukan saya “sebagai orang yang merasa ketitipan” harus dihargai atau dihormati, atau karena ucapan ‘terima kasih’ itu penting buat saya. Juga bukan karena si Ibu ‘sebagai penitip’, dari segi usia jelas jauh lebih tua jadi ‘merasa’ tidak perlu sekedar mengucap matur nuwun kepada yang lebih muda.
Lalu saya mikir..”bagaimana ya perasaan si ibu jika diperlakukan sama oleh saya..?? Bagaimana pula sikap saya selama ini terhadap orang lain (selain si ibu itu)..??? Apa sama kah..??
Jangan2 apa yang saya alami adalah sebagian dari akumulasi perbuatan buruk yg saya telah lakukan kepada orang lain..??
Ah, yobenlah.. # akurapopo . Toh ini bisa jadi sebuah pengalaman sekaligus pembelajaran bahwa (ber)terima kasih dan apalagi (ber)etika itu penting, dan melatih sensitifitas nurani juga perlu……

Akhirnya Makan Soto Juga….

Weehhh…lama tidak ngeblog rasanya grogi dan gimana gitu.Bingung mau nulis apa.. Tulisan dari status pesbukku ini saja sebagai awal kebangkitan semangat ngeblog lagi…

========
Mbok Wedok sedang sibuk di ‘pawon’ menyiapkan sesuatu untuk makan kemalaman. Bunyi ‘suthil’ dan wajan beradu bak irama orkestra mengiringi lagu keroncong yang syahdu mendayu-dayu dari perut dua pasang mata yang sabar menunggu : Bakulrujak dan Anaklanang nya. Aroma bawang goreng yang wangi semakin menggugah selera. Tak sabar rasanya menanti lebih lama. Ah, apa gerangan yang sedang dimasak Ibunda tercinta..??? Hahaaa.
“Pak, aku ambilin piringnya ya .?? ” ujar Anaklanang membuyarkan lamunan Bakulrujak yang sedang membayangkan lezatnya menu makan malam kali ini. Soto. Hmmm..Nyummmmii
ii…
Tanpa terasa ‘iler’ pun jatuh menetes membasahi pipi. Hohooo.(membasahi kaki ding..). Belum sempat menyahuti apa yang dikatakan Anaklanang, Mbokwedok keburu datang dengan semangkok soto di tangan. Wah..pucuk dicita ulam tiba..Perut sudah lapar soto pun tersedia, menunggu eksekusi dengan seksama dan segera. Tapi, baiknya menunggu Mbokwedok dan Anaklanang yang kembali mengambil soto bagian mereka. Ah, itu mereka tiba. Enaknya punya ‘pawon’/dapur lima langkah saja ya begini. Tak perlu menunggu lama utk segera menikmati soto..Soto Tanpa lontong tanpa nasi. Soto saja..Sruput dulu kuahnya..Wuaahhhhh…sed
aaaapp..!
“Enak ya, Pak.!” Anaklanang berkomentar memuji masakan Mbokwedok, Ibundanya.
“Iya..Ayo lekas dihabiskan….!”
Sryuuppp…sryuupp..hmmm..
Sruputan demi sruputan kuah soto terlewati, semangkok soto tuntas dinikmati.” Terima kasih Tuhan, atas kiriman soto -Mu hari ini …meski dalam bentuk mi instan. Akhirnya kami makan soto juga. Aamiin.
# Bakulrujak

%d blogger menyukai ini: