Tetangga Dalam Islam

Bismillaahirrohmaanirrohiim.

Islam menetapkan bahwa siapa yang mengaku beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah mengganggu tetangganya. Islam juga menegaskan betapa berdosanya seseorang yang
tetangganya tak merasa aman dari gangguannya. Dari Abu Syuraih bahwasanya Nabi SAW bersabda: “Demi Allah, tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman.” Ditanyakan kepada
beliau: “Siapa yang tidak beriman wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Yaitu, orang yang tetangganya tidak merasa aman dengan gangguannya.” (HR Bukhari-5557).

Tetangga adalah orang pertama yang mengetahui dan merasakan kebaikan juga gangguan kita. Karena itu, adab mulia bertetangga sangat ditekankan dalam syariat Islam. Tetangga bisa saja orang yang pintu rumahnya paling dekat dengan kita atau orang yang jauh rumahnya dengan kita,tetapi paling banyak tahu dengan kondisi-kondisi keseharian kita.

Dalam syariat Islam, memenuhi hak tetangga karena kedekatan pintu rumah lebih diutamakan ketimbang yang jauh.
Dari Aisyah, dia berkata: “Wahai Rasulullah, saya memiliki dua tetangga, lalu manakah yang lebih aku beri hadiah terlebih dahulu?” Beliau menjawab: “Yang lebih dekat dengan pintu rumahmu.” (HR Bukhari-5561).

Berbuat baik kepada tetangga menjadi sangat penting dalam ajaran Islam.Setiap umat Islam diwajibkan untuk terus berbuat baik kepada tetangga dengan menolongnya jika mereka meminta pertolongan, membantunya jika mereka
meminta bantuan. Sebagai agama rahmatan lilalamin, dalam berbuat
baik kepada tetangga kita
diwajibkan untuk tidak
memandang dari segi sosial dan suku.
Sebuah firman Allah disebutkan:
“Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, keluarga,anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga jauh” (QS Al-Nisa (44): 36).

Adab Islam menganjurkan untuk memberi perhatian kepada tetangga dan jangan melalaikan perhatian kepada mereka. Nabi SAW bersabda: “Wahai para wanita Muslimah, janganlah antara tetangga yang satu dan lainnya saling meremehkan walaupun hanya dengan memberi kaki kambing.” (HR Bukhari-5558).
Sekecil apa pun pemberian untuk menunjukkan perhatian dan
kebersamaan sosial tidak boleh dianggap ringan walaupun pemberian itu hanya sekadar kaki kambing.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: