Makan,Zikir,dan Syukur

Makan adalah kegiatan memasukkan makanan atau sesuatu ke dalam mulut untuk menyediakan nutrisi bagi binatang dan makhluk hidup, dan juga energi untuk bergerak serta pertumbuhan, yaitu
dengan memakan organisme. Makhluk karnivora memakan binatang, makhluk herbivora memakan tumbuhan, sedangkan omnivora memakan keduanya.(Wikipedia).

Berbicara masalah makan menurut penelitian selain tidak boleh tergesa-gesa, jumlah kunyahannya pun setiap suapan sebaiknya 36 kali. Selain membantu meringankan kerja system pencernaan, yang menariknya lagi frekuensi pengunyahan yang banyak ini akan merangsang sinyal rasa kenyang dari susunan saraf pusat atau otak. Jadi, kita pun lebih mudah merasa kenyang dan tidak akan terlalu banyak dalam mengkonsumsi makanan.

Makan tidak saja dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan
biologis dan kebutuhan
kenikmatan dunia semata, tetapi juga sebagai sarana ibadah.Makan haruslah diniatkan untuk menjaga
ketaatan yaitu berharap bahwa dengan makan akan menjaga tetap konsisten menjadi orang yang takwa.Dengan niat ibadah itu berarti kita bisa mengurangi semangat nafsu kebinatangan dan membawa pada sikap totalitas kerelaan terhadap rezeki yang diberikan Allah kepada kita (qana’ah).Semua amal perbuatan itu akan bermuara kepada niat,anjuran mengenai niat ini sesuai dengan hadist Nabi Shollallaahu ‘alaihi wa sallam yang artinya, “Sesungguhnya amal-amal
perbuatan itu bergantung pada niatnya, dan bagi setiap orang adalah apa yang ia niatkan”. (HR.Bukhari)
.

Kita juga dianjurkan untuk tidak tergesa-gesa saat makan dan mengambil secukupnya sehingga dapat di konsumsi habis, jangan tersisa sedikit pun,walau hanya berupa sebutir nasi yang menempel di jari tangan umpamanya, karena hal itu menjadi bentuk pemubaziran yang dilarang. Dari Jabir katanya,Rasulullah SAW menyuruh membersihkan sisa makanan yang di piring maupun yang di jari seraya bersabda: “Sesungguhnya kalian tiada mengetahui di bagian manakah makananmu yang mengandung berkah”.(HR. Muslim).

Rasulullah SAW menegaskan bahwa penyakit itu banyak bersumber dari makanan. Karena itu kita harus mengatur isi perut kita agar tidak seluruhnya terisi makanan.Seperti dinyatakan dalam sebuah hadist,Tidak ada suatu tempat yang dipenuhi oleh anak Adam yang lebih buruk daripada perutnya.Cukuplah bagi anak Adam itu beberapa suap makanan saja,asal dapat menegakkan tulang rusuknya. Tetapi bila ia terpaksa melakukannya, maka hendaklah sepertiga ( dari perutnya itu) diisi dengan makanan,sepertiganya dengan minuman dan sepertiganya lagi dengan nafasnya (udara, dikosongkan)”(HR. Imam Ahmad dan Turmudzi).Jika kita menela’ah lagi tentang makanan, dalam sebuah ayat Allah SWT berfirman, “Maka
hendaklah manusia itu
memperhatikan makanannya”.
(QS. ‘Abasa, 80 : 24).

Sebenarnya banyak sekali hal yang dapat kita perhatikan dari makan. Tapi mari mulai dari mana datangnya makanan itu di hadapan kita?.Katakanlah di hadapan kita ada nasi,lha berarti ada yang menanak nasi, sebelum itu pastilah berupa beras yang berarti ada yang menjualnya,sebelumnya ada yang memanen, menanam, kemudian tidaklah
mungkin jika tidak ada air,
berarti Allah harus menciptakan hujan, tidaklah mungkin jika tidak ada awan dan tidaklah mungkin jika tidak ada angin, angin terjadi karena dataran tinggi dan dataran rendah, belum faktor matahari tidaklah mungkin padi menguning jika tidak ada matahari, belum lagi faktor biji-bijian, faktor tanah, jika Allah tidak membelah tanah apa yang terjadi dan sebagainya-dan
sebagainya. Prosesnya sangatlah rumit dan kompleks.
Subhanallah..! Sudah sepatutnya kita bersyukur jika ada makanan di hadapan kita,karena prosesnya yang panjang seringkali kita lupa
bersyukur kepada Allah, malahan mencela makanan dengan mengatakan “Nggak enak,makanan apaan ini?”,atau celaan lain.Padahal,ramuan terlalu asin atau tidak,terlalu manis atau pedas itu salahnya yang memasak.Kenapa makanannya yang dicela??
Apa pun yang dihidangkan di
depan mata kita, makanan
merupakan rezeki dari Allah. Dari Abu Hurairah, ia berkata:”Rasulullah SAW tidak pernah mencela makanan selamanya. Jika beliau suka dimakannya, dan jika tidak suka ditinggalkannya”.(HR.Bukhari dan Muslim).

Satu hal lagimakanan yang kita makan itu tidaklah akan masuk ke perut jika tidak ada gaya gravitasi bumi, artinya tatanan
dan keteraturan langit yang
menyebabkan gaya gravitasipun
Allah atur hanya sekedar untuk kepentingan kita makan. Dan
dalam (QS. Al Jaatsiyah, 45 : 13),
“Dan Dia telah menundukan
untukmu apa yang ada di langit
dan apa yang di bumi semuanya,
(sebagai rahmat) dari padaNYA. Sesungguhnya pada yang
demikian itu benar-benar
terdapat tanda-tanda
(kekuasaan Allah) bagi kaum
yang berfikir”.
Subhanallah. Bagi kaum yang “berfikir.” Atau tafakkarun
artinya bertafakur. Mari kita
tafakuri, dengan makanpun kita bisa berdzikir dalam artian menghadirkan Allah ke dalam benak, agar kita bisa bersyukur dan bertaqorub atau lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Karena itu tidaklah
mengherankan jika kita akan
makan hendaklah kita berdoa; “Ya Allah, berilah berkah dari rezeki yang telah Engkau berikan kepada kami dan jauhkanlah kami dari siksa neraka”.

Inilah kesempurnaan agama Islam,
tata cara makan pun secara
detail dari mulai hakikatnya,
menanam hingga memanennya,
adab & tata caranya, bentuk, rasa dan jenisnya, seluruhnya telah diatur rapih oleh Allah dan RasulNYA. Inilah “diin” atau tata cara kita melakukan keseharian secara selamat sekaligus berserah diri kepada aturan Allah SWT, karena hanya berserah diri kepada Allahlah kita bisa selamat.
Totalitas ketaatan dan
kepatuhan terhadap ajaran yang disandarkan pada prinsip wahyu
akan sangat berpengaruh
terhadap kesejahteraan di dunia dan keindahan diakhirat kelak..

“Alhamdulillaahilladzi
att’amanaa wasaqaanaa waja’alana minal muslimiin” “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kami
makan dan minum, serta
menjadikan kami sebagai orang muslim”

Selamat makan, selamat
berdzikir, dan selamat
bersyukur…..
Semoga tulisan ini bermanfaat, dan menjadi amalan yang baik bagi kita semua, Amin Ya Rabbal
alamin.

*berbagai sumber*

Iklan

4 responses

  1. iya, terkadang lupa bahwa proses sebelum makanan itu sampai di meja sebenarnya jika bukan atas izin Allah tidak akan sampai di meja, syukron diingatkan 🙂

    Suka

    1. jangan lupa juga untuk mengingatkan saya…
      soalnya saya lebih banyak tidak ingatnya..

      Suka

      1. hehe saling mengingatkan jadinya 🙂

        Suka

      2. saling mengingatkan adalah kewajiban sesama Muslim..itu pelajaran yang saya dapat dari Ustadz..

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: