Tradisi Bakar Petasan di Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan memang penuh cerita. Salah satunya adalah kejahilan anak-anak bahkan yang sudah dewasa juga untuk menyalakan petasan pada bulan Ramadhan.Menjelang memasuki bahkan hingga akhir ramadhan bunyi petasan selalu menghiasi suasana bulan ramadhan yang seharusnya bulan penuh kekhusyukan dan kedamaian. Entah berawal darimana yang jelas tradisi bakar uang ini sudah mengakar dan membudaya bagi kalangan anak anak atau kawula remaja dan beberapa ‘orang dewasa’ Indonesia. Dentuman
petasan yang saling bersahutan menggema di sana-sini.Ada yang bersorak kegirangan karena ‘ledakan’,ada juga yang merasa terganggu dengan suara petasan yang memekakan telinga itu.

Menurut saya pribadi, hal ini merupakan suatu kesalahan yang umum dilakukan, bahkan menjadi adat dan kebiasaan yang mungkin menjadi suatu hal yang wajib dilakukan untuk menyambut bulan Ramadhan yang banyak tersebar luas di tengah-tengah masyarakat.Jelas model ‘penyambutan bulan Ramadhan semacam ini sudah melampaui batas dari tuntunan yang disyariatkan.

Sebenarnya kalau ditinjau dari sisi syariat,membunyikan/membakar petasan ini jelas-jelas dilarang karena termasuk menghambur-hamburkan harta untuk sesuatu yang tidak berguna.Disamping perbuatan ini juga mengganggu orang lain yang sungguh-sungguh sedang khusyuk beribadah di bulan Ramadhan.Padahal,setiap rupiah yang kita keluarkan/belanjakan akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah.

Saya teringat tahun lalu ketika seorang teman dengan bangga bercerita bahwa dia menghabiskan hampir satu juta rupiah untuk membeli petasan dengan aneka jenis dan ukuran.Dalam hati saya berkata,”Daripada dibelikan petasan,mendingan tuh duit kamu sedekahkan sama aku..!” (hehehe…! ngarep[dot]com.). Sayang kan kalau uang sebanyak itu dibuang percuma dan dibakar hanya untuk menuruti hawa nafsu.sangat rugi jika bulan Ramadhan diisi dengan hal-hal yang malah banyak mendatangkan madlaratnya.Bayangkan kalau sampai tangan atau anggota badan lainnya terkena ledakan petasan,apa nggak berabe??

Kendati petasan memiliki arti tersendiri bagi anak-anak dan para remaja, terutama orang dewasa yang telah melewati masa-masa itu perlu diperingatkan kepada anak-anak mengenai petasan bila hal itu dirasa sudah berlebihan.Sudah saatnya para orangtua memastikan buah hati anda diberi pengertian agar memanfaatkan momen bulan puasa dengan arif dan bijak.*

Iklan

17 responses

  1. pabrik petasannya memang disuruh tutup..
    namanya juga cuma ‘disuruh’ ada yang mau ada juga yang menolak..
    bukannya berkurang petasan yang beredar malah makin menjamur saja penjual petasan di mana2..
    ‘bisnis petasan di bulan ramadhan sepertinya lebih menguntungkan meski sebenarnya melanggar hukum..
    Masih perlu kesadaran dan penegakkan hukum…

    Suka

  2. Betul, saya juga heran, entah darimana asalnya seolah-olah “bulan puasa belum sah kalau tak ada petasan”. Nggak di pasar, di jalan, di dekat rumah ibadah, sangat mengganggulah pokoke. Padahal kalau tak salah bukannya pabrik petasan sudah disuruh tutup ya? Tapi tetep aja di pasar daerah kami berseliweran penjual petasan. Menyedihkan memang. Salam kenal dan selamat ramadhan!

    Suka

  3. Saya rasa tidak masalah mas, asal tidak berlebihan.
    Di tempat saya biasanya sehabis tarawih anak2 kecil minta dinyalain kembang api (yg bisa melayang ke udara). Dan justru itu membuat keceriaan bagi mereka.

    Suka

    1. Terkadang kejadian
      ini disesalkan namun sisi lain menyenangkan,terutama bagi anak-anak dan remaja sebagai penyemangat di bulan ramadhan.Tapi tetap perlu diperingatkan kepada anak-anak mengenai petasan
      bila hal itu dirasa sudah
      berlebihan.Yakni cara anak2 dan teman-teman menyemangati diri dalam berpuasa di bulan ramadhan.,

      Suka

  4. Betul Gan..kebiasaan yg kurang baik dan mubazir…..

    Suka

    1. dan juga memprihatinkan..jika mengingat ternyata petasan2 yang dibakar itu kebanyakan selundupan dari luar negeri..akarnya ya penegakkan hukum yang kedodoran..
      *upss..ndleming aku..!

      Suka

  5. Assalaamu’alaikum wr.wb, saudara Zainal…

    Hal yang sama juga berlaku di Malaysia, suatu ketika dahulu semasa saya masih kanak-kanak.
    Suasana kampung sangat meriah sekali. Namun aktivitas itu biasanya dilakukan selepas selesai solat sunat Terawih. Kebisingan dan gangguan tetap wujud sehingga ada yang tidak senang dengan bunyi2 yang mengganggu tidur dan ketenangan.

    Tetapi sekarang, sudah semakin kurang apabila kerajaan Malaysia mengharamkan petesan atau seumpamanya kerana berakibat kepada kemalangan, kecederaan dan kematian terutama permainan meriam buluh yang bisa meletup. Jadi sekarang bisa tenang tanpa pembakaran petasan yang berleluasa di bulan ramadhan. lagipun, benar-benar membazir.

    Salam Ramadhan dan selamat berpuasa. πŸ˜€

    Suka

    1. wa alaikum salam wa rahmatullah wb..
      Sebagian orang justru ada yang beranggapan bahwa ramadhan tanpa petasan kurang afdol,kurang semangat katanya..
      Mestinya ramadhan diisi dengan perbuatan yg bermanfaat..bukan melatih diri untuk hidup boros.
      Selamat berpuasa juga..

      Suka

  6. ane kalo lewat anak-anak yang lagi main petasan bawaannya parno banget lah πŸ˜€

    Suka

    1. parno bagaimana tho Mas..??

      Suka

      1. ya parno, takut kalo meledaknya pas kena saya -,-“

        Suka

  7. Ummu El Nurien | Balas

    kepuasan nafsu pada intinya kang..
    dibulan Ramadhan oleh sebagian orang malah digunakan untuk berpuas-puas diri,, berpuas diri dalam hal makanan, tarawih pun kalau ga rame mungkin ga akan hadir ,, termasuk dalam hal petasan …
    do’akan lah kang …

    Suka

    1. itulah realitas ramadhan kita….

      Suka

  8. Entahlah, apa nikmatnya bunyiin petasan, saya juga gak tahu. Aneh-aneh aja ya orang hehe πŸ˜€

    Suka

    1. yang lebih aneh lagi sudah aneh malah dianeh-anehi dan dibuat semakin aneh..
      Hehe..

      Suka

  9. setuju! barang yang ga ada manfaatnya, malah sering bikin sebel orang πŸ™„

    Suka

    1. sebel = senang betul..??

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: