Puasa Masa Kecil

Saya tidak ingat benar kapan pertama kali berlatih untuk berpuasa pada masa kecil.Mungkin berusia sekitar enam atau tujuh tahun saya sudah belajar menunaikan rukun Islam ketiga yang terasa sangat berat waktu itu.
Kejadian yang saya ingat benar adalah ketika tanpa sepengetahuan keluarga diam-diam membatalkan puasa di waktu ashar dengan menenggak air mentah di sumur.
Saya tidak tahu apakah perbuatan tersebut dikategorikan sebagai suatu pelanggaran agama atau tidak.Mengingat waktu itu belum paham benar makna pelanggaran yang dilarang agama.

Waktu itu saya merasa puasa sebagai suatu siksaan.Dalam usia itu niat karena Allah semata belum dipahami apalagi dihayati.Pokoknya,ikut-ikutan makan sahur dengan janji besoknya berpuasa.Ada kegirangan tersendiri saat makan sahur,apalagi kalau ada hidangan kesukaan saya,sambal terasi.Aromanya begitu menggoda selera.Sesekali juga ada ikan mujair goreng hasil Bapak memancing di kolam belakang rumah.Sayangnya sejak pindah rumah kami belum punya kolam ikan lagi.
Yang penting saat itu saya ikut makan sahur.Perkara niat jangan tanya dulu.

Setelah “dewasa” situasi mulai sedikit berubah seiring pengetahuan ajaran agama yang berangsur mulai bertambah.Dalam keadaan berpuasa kita masih bisa bekerja tanpa menghiraukan rasa lapar dan dahaga,tanpa harus-misalnya-berulang kali melirik jarum jam untuk mengetahui kapan matahari terbenam.
Ternyata niat memberikan pengaruh yang begitu dahsyat.Sungguh benar adanya sabda Rasulullah yang menyatakan bahwa segala amal perbuatan itu tergantung kepada niatnya dan setiap orang tidak akan mendapatkan apa-apa kecuali yang dia niatkan.
Jika niat mantap,apa pun terasa ringan.Apalagi jika mengingat bahwa amal perbuatan (amal soleh) yang kita kerjakan itu diniatkan semata mengharap ridho Allah,maqam tertinggi dari setiap perbuatan kebajikan yang tidak ada tandingannya.Dan,di usia yang sekarang masih belum hilang keraguan apakah perjalanan hidup ini sudah berada pada jalur yang disebut ridho Allah ataukah masih berada dipersimpangan penuh dosa.??
Hanya Allah yang Mahatahu,kita hanya berupaya untuk tetap bergerak ke arah sana.Ke arah ridho Allah.

Kembali ke puasa masa kecil.Meskipun kini dapat bekerja seharian dalam keadaan berpuasa ramadhan pula,tanpa harus menengok gerak jarum jam untuk mengetahui waktu magrib tiba,saya tidak dapat mengatakan apakah sudah berada di jalur ridho Allah atau belum.Bahkan jangan-jangan puasa saya masih seperti puasa masa kecil dulu.Dengan kata lain belum beranjak ke level berikutnya dibandingkan puasa masa kanak-kanak saya,sekedar ikut-ikutan tradisi orang tua.
Jadi,kalau diingatkan kembali pada akhir surah al-baqarah ayat 183 tentang puasa,”la’allakum tattaqun” (agar kalian menjadi takwa), dapat kita artikan bahwa orang yang berpuasa berharap dengan perantaraan puasanya ia dapat menjadi orang yang bertaqwa.
Kesimpulannya,dengan berpuasa apakah kita sudah dijamin berada ditingkatan takwa.??
Sederhananya tingkatan itu barulah harapan,belum kepastian.
Manusia bertakwa pastilah dalam keridaan Allah.

Semoga puasa kita dapat menjadi saksi dihadapan Allah tentang keimanan kita kepada- Nya. Dan semoga puasa kita mengantarkan kita menuju derajat taqwa, menjadi hamba yang mulia di sisi Allah Ta’ala.

Wallahu al-muwaffiq ilaa aqwamitthariq…….

Iklan

15 responses

  1. kaze@ seleb cap sandal jepit..he.he..

    Suka

  2. wah wah ini kisah pribadi hehe..keren ah 😀

    Suka

    1. hehe..kayak selebritis ya..keren..

      Suka

      1. emang akang mah seleb kan 😀

        Suka

  3. ‘..dengan berpuasa
    apakah kita sudah dijamin
    berada ditingkatan takwa.??’

    nah, ini dia yg sangat menggelitik, kita tidak bisa menyimpulkannya sendiri..hanya berusaha semaksimal yg kita bisa..

    Suka

    1. benar mbak..
      Puasa itu sifatnya pribadi banget..
      hanya kita + Tuhan yang tahu..
      selalu berusaha semampunya menuju arah lebih baik..

      Suka

  4. semoga kita bisa belajar dari puasa masa kecil kita agar puasa kita lebih baik..ya..

    Salam kenal kembali..
    Terima kasih kunjungannya..
    Salam sukses dan salam sejahtera..

    Suka

  5. Puasa masa kecil mengajarkan kita puasa di masa depan dengan usia lebih besar angkanya dan tentu lebih besar godaannya. :
    Salam kenal. 🙂

    Suka

  6. Cerita masa kecil yang begitu yang justru ngangenin ya.
    Ya kita ikhtiar aja, sambil berharap moga semua aktifitas kita diridhoi : )

    Suka

    1. berharap sambil berusaha agar aktifitas kita diridhoi oleh-Nya,ya Mbak..

      Aamiin u/ doanya..
      Terima kasih..
      Salam sukses..

      Suka

  7. Wah bener itu mas, apakah puasa kita hanya outputnya masalah lapar dan dahaga hanya allah yang bisa menentukan. Yang penting mah do the best as you can aja. 😀

    Suka

    1. iya mas..do the best as you can dan (kalau boleh saya tambahi) never put off till tomorrow what you can do today..
      *maaf,telat balas komentarnya..

      Suka

      1. Mantap mas. 🙂
        *sambil buka kamus ngartiin kalimat itu. Hehehe

        Suka

      2. kamus bahasa jawa ya..soalnya saya nemu kata2nya dari situ..
        Hehe..kalau gak ketemu ya di kamus bahasa inggris amburadul edisi special belepotan..

        Suka

      3. Hehehehe. . Untung gak punya kamus bahasa jawa sama amburadul itu mas. 😀

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: