Kemiskinan : Penyakit atau Problem ?

Memang,tidak ada seorang manusia pun yang bercita-cita (ingin) jatuh dalam kefakiran atau kemiskinan,seperti halnya tidak ada orang yang secara sengaja ingin jatuh sakit atau tertimpa suatu penyakit.Melihat kemiskinan juga tidak dapat ditinjau dari satu sebab saja,misalnya karena malas.Seperti halnya orang yang terkena suatu penyakit atau sakit.Tak dapat dikatakan semata- mata karena tidak menjaga kebersihan.
Memang,bila dilihat dari gejalanya dapat pula dikatakan orang miskin itu karena malas dan orang sakit karena kurang / tidak peduli dengan kebersihan.Tidak bersih membawa penyakit badan/jasmani,malas membawa penyakit rohani.

Meskipun rezeki itu telah dijamin oleh Allah bagi setiap makhluk yang bernyawa seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur’an, namun tidak bisa dijadikan alasan,karena rezeki telah disediakan,lalu manusia tidak mau bekerja atau berusaha sekuat tenaga.Apalagi jika ditambah dengan pemahaman “takdir” yang diterima secara mentah-mentahan (pasif).Hal ini dapat menyebabkan manusia dikuasai keadaan,bukan menguasai keadaan.

Kemiskinan memang sebuah problema dan setidaknya dapat disebabkan oleh dua hal,yaitu :
Pertama,karena malas bekerja atau keteledoran.Hal semacam ini sama sekali tidak dibenarkan.Dalam Islam,al Qur’an mengajarkan agar manusia dalam memperoleh sesuatu haruslah disertai dengan usaha dan bekerja.
Kedua,kemiskinan memang benar-benar disebabkan karena tidak adanya kemampuan bekerja,tidak memenuhi syarat-syarat untuk bekerja atau hilangya persyaratan untuk bisa bekerja.Misalnya karena sakit-sakitan,tenaganya lemah atau memang karena tidak punya ketrampilan dan sebagainya.

Kemiskinan bukanlah sesuatu yang harus dipamerkan dengan cara meminta-minta.Fakir dan miskin tetaplah harus berusaha mencari rizki yang halal dan tetap berjalan lurus di jalan Allah.Tidak dibenarkan karena faktor desakan ekonomi kemudian melakukan tindakan yang merugikan diri sendiri dan orang lain,seperti mencuri atau merampok,mencopet,menjambret,melacurkan diri,dan sebagainya.Kemiskinan hendaknya disertai sifat qona’ah ; rela menerima bagian rezeki yang diusahakan dan tidak memamerkan kemiskinannya itu dengan cara meminta-minta,sehingga tidak membebani lingkungan dan dianggap sebagai “penyakit masyarakat”.

Menangani kemiskinan tidak dapat pula dilakukan hanya dari satu sisi sudut pandang saja,hanya semata-mata melihat secara materi.Kucuran dana jutaan atau bahkan milyaran tak berarti apa-apa jika mental si miskin tidak diperkaya dengan keimanan,kejujuran,dan ketakwaan.Dalam mengentaskan kemiskinan sangat diperlukan peningkatan mental spiritual yang tinggi. Tujuannya tak lain agar “si miskin” memiliki kebanggan atas nilai etos kerja dan moral yang mulia.Mungkinkah “si miskin” bisa mandiri kalau “miskin iman” ??

Terhadap kemiskinan hendaknya kita juga mampu melihat dari sisi pandang yang positif. Artinya manusia harus banyak bersyukur manakala diberi kekayaan,dan harus pandai bersabar ketika terjatuh dalam keterpurukan dan ketidakberdayaan.Harta yang dimiliki adalah sebagai perantara menuju kebaikan. Harta yang ada dalam genggaman tangan seharusnya dapat membawa kebaikan untuk dirinya dan masyarakat disekitarnya.
Segala isi alam semesta ini adalah milik Allah,tatkala seseorang sedang mendapatkan limpahan harta hendaknya diberikan bagian untuk fakir miskin.Melalui zakat,infaq,sadaqah sesuai dengan jalan yang diridhai Allah.Manusia hendaknya menggunakan akal fikiran dan ilmu pengetahuannya untuk memperoleh rizki yang lebih baik dan lebih tinggi manfaatnya.
Tentu pula sudah seharusnya kita senantiasa berusaha dan berdoa agar terhindar dari kemiskinan dan ketidakteraturan hidup.Berikut saya kutipkan sebuah doa dari satu hadist Rasulullah yang diriwayatkan oleh Muslim dan Ibnu Majah:
اَلّلهّم اِّني اَسْالُكَ اْلهُدَي والّتُقي واْلعَفَافَ واْلغِنَي.
“Ya Allah,aku mohon kepada-Mu petunjuk,ketakwaan,keluhuran budi,dan kekeyaan”

Semoga bermanfaat.

Iklan

4 responses

  1. Terima kasih atas sharingnya…..Salam kenal dan kami tunggu untuk postingan selanjutnya…

    Suka

  2. Setujuu…. peningkatan spiritiual dan etos memang penting… nice post masbro..!! tfs… salam kenal…

    Suka

    1. salam kenal kembali,terima kash kujungannya.maaf telat balas komentarnya..salam sukses

      Suka

  3. aku nyimak saja dulu kang 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: