Kartini Tetap Kartini, Bukan Kartono

Hari ini (di Indonesia) diperingati sebagai hari Kartini. Hari dimana kita musti ingat bahwa wanita adalah bagian tak terpisahkan dari
kehidupan manusia.

Apabila kita perhatikan perjalanan sejarah manusia dari Nabi Adam
hingga abad ini wanita hampir selalu terlibat di berbagai bidang kehidupan. Terutama yang
menyangkut ziinatul hayah (perhiasan dunia) dan
penghambaan hawa nafsu.Aneka iklan dan tempat hiburan tak pernah sepi dari makhluk
yang bernama wanita.Penarik karcis pun di berbagai fasilitas juga menggunakan tenaga wanita yang berparas aduhai.Konon penampilannya itu bernilai komersial.Ckckck. . . !
Bahkan ada yang lebih berani lagi,dibeberapa bidang olahraga yang diperlihatkan bukan cuma
ketrampilan tapi juga bentuk tubuh wanita itu sendiri. Bukan cuma itu,ada lagi lomba “Ratu
Kecantikan” yang kini banyak diperebutkan wanita.Semakin berani wanita memperlihatkan
kemolekan dan keindahan tubuhnya semakin tertarik dunia dibuatnya. Di sisi lain,peran wanita
juga tidak kecil meski ada anggaran di masyarakat bahwa wanita adalah makhluk lemah.Namun kenyataannya,sering kita jumpai hal
sebaliknya,banyak wanita yang menjadi tulang punggung keluarga. Ada yang karena suami sakit
parah sehingga tidak mampu bekerja,ada juga wanita harus banting tulang karena suami tidak
bertanggungjawab tidak mau bekerja dan parahnya ada suami yang tega “memalak” istrinya
yang bekerja susah payah cuma buat beli rokok atau mabuk atau berjudi. Ada juga yang istrinya
jauh jauh jadi TKW di luar negeri begitu pulang ke kampung halaman mendapati suami kawin
lagi.Bahkan biayanya dari kiriman hasil jerih payah sang istri. Kenyataan pula wanita sering
lebih tegar menghadapi kesulitan hidup dan lebih bertanggungjawab atas masa depan anaknya. Di
sekitar kita banyak dijumpai wanita (bahkan telah menjanda) dan lanjut usia masih bekerja atau
berjualan di pasar/berkeliling. Tidak sedikit dari mereka bahkan mampu menyekolahkan anaknya
hingga universitas. Peranan wanita dalam kehidupan memang tidak bisa dianggap remeh apalagi di era seperti sekarang ini,di mana (lagi-
lagi konon ) emansipasi alias persamaan gender digembar gemborkan.terutama oleh mereka yang menamakan diri kaum feminisme dan liberalisme.Katanya sih persamaan hak, tapi salah
kaprah. Wanita diciptakan Allah sebagai pasangan bagi pria dalam membentuk keluarga sakinah dan
disamakan haknya dalam memperoleh sorga asal mereka beriman dan beramal shalih.Sebgaimana dijelaskan Allah dalam Al Quran, yang artinya :
“Dan barangsiapa beramal shalih baik pria maupun wanita sedangkan dia orang beriman,maka mereka akan masuk sorga serta
diberi rizki di dalamnya tanpa terhitung.” (QS.AL MU’MIN :40).

image

Wanita yang sukses adalah wanita yang imannya kuat dan beramal shalih.Wanita
sukses adalah wanita wanita yang mampu melahirkan dan mendidik anak-anaknya menjadi
generasi shalih/shalihah,cinta terhadap suami,berbusana dan bertingkah laku serta segala
aktifitasnya dilandasi dengan ketentuan ketentuan Allah dan petunjuk agama Islam.dan Bukan
wanita yang mau diperbudak nafsu syaitan sebagai tontonan dan permainan si mata
keranjang;bukan wanita yang diperbudak mode pakaian ala Barat,bukan wanita karir yang sukses tapi anak dan suami (rumah tangga) berantakan,
dan bukan pula wanita yang gerak gerik tingkah lakunya tidak memperhatikan norma agama
Islam. Untuk para wanita yang katanya penganut emansipasi dan feminisme/liberalisme,janganlah
meninggalkan kodrat sebagai wanita dan mengenyampingkan tugas tugas utama sebagai
wanita.Kartini (baca:wanita) tetaplah Kartini,bukan Kartono.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: