Amanah Kemerdekaan

Sekali lagi, bangsa Indonesia sudah enam puluh tahun lebih merdeka. Bagi kita yang tidak ikut merasa sakitnya dijajah tentu kurang bisa memahami kondisi saat itu dimana makan nasi adalah suatu kemewahan.

Kini,setelah enam puluh tahun lebihi bangsa Indonesia terlepas dari belenggu penjajahan militer bangsa asing dan makan nasi ayam setiap hari mungkin sudah bukan hal istimewa bagi kita sekarang. Bahkan barang – barang yang semasa kecil saya sulit didapatkan kini mudah sekali mendapatkannya. Wajar saja, karena ternyata sudah lebih setengah abad bangsa kita merdeka. Kita patut bersyukur bahwa kita sekarang hidup di zaman merdeka, nggak perlu lagi merasa bagaimana sakit dan menderitanya dijajah. Alhamdulillah.

Kemerdekaan yang dirasakan sekarang bukanlah hadiah dari musuh. Tidak mungkin bangsa penjajah rela menghadiahkan kemerdekaan dengan cuma – cuma. Bangsa Indonesia juga tidak memperoleh kemerdekaan itu dari Jepang atau Belanda. Dalam program kaum penjajah, sama sekali tidak ada rencana untuk menyerahkan kemerdekaan itu. Keuntungan yang berlimpah – ruah telah dikeruknya dari negeri jajahan. Setelah kekayaan alam Indonesia berhasil disedotnya, maka kekayaan yang lebih banyak lagi akan dieksploitasi terus. Memang seperti itulah watak penjajah. Jadi, mana mungkin mereka mau melepaskan negeri jajahannya begitu saja..?

Kemerdekaan itu juga bukan hasil perjuangan semata – mata. Apalah artinya perjuangan mati – matian, bila tidak diridhoi Allah. Manusia hanya wajib untuk berusaha sekuat tenaga. Namun manusia bukanlah penentu hasilnya. Hanya Allah yang berhak untuk menyukseskan atau menggagalkan perjuangan suatu bangsa. Kemerdekaan merupakan anugerah besar dari Allah. Wakil – wakil bangsa Indonesia pada waktu itu juga mengakuinya. Mereka menyatakan : “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa, dan dengan didorongkan keinginan yang luhur………”(alinea pertama pembukaan UUD 1945).

Kita tidak tahu rahasia Allah menunda atau menyegerakan kemenangan / kemerdekaan. Tugas manusia hanyalah berusaha dan berdo’a. Sedangkan hasilnya bukan tanggungjawab mereka. Seseorang pahlawan tidak boleh mengklaim bahwa kemerdekaan suatu negeri adalah hasil perjuangannya semata. Mesti diingat bahwa perjuangan adalah milik semua bangsa dan anugerah dari Allah SWT.

Kemerdekaan itu adalah suatu amanah besar dari Allah. Jangan sampai amanah tersebut terlepas kembali dengan datangnya penjajah lagi. Amanah kemerdekaan ini harus diisi dengan pembangunan, bukan dipenuhi dengan kemaksiatan dan kerusakan. Pembangunan baik secara fisik maupun non fisik. Sedangkan koplo, ekstasi, narkoba, korupsi, prostitusi, kolusi, akan menjadi ” sampah ” yang mengotori kemerdekaan.
Sampah – sampah itu tidak layak mengisi kemerdekaan. Betapa banyak sudah pengorbanan yang dikeluarkan dalam meraih kemerdekaan. Para syuhada negeri telah menyumbangkan segalanya untuk mencapai tujuan mulianya : merdeka. Harapannya tentu nantinya kemerdekaan akan diisi sebaik – baiknya. Alangkah sedihnya mereka ketika mengetahui hasil perjuangannya telah dikotori.

Mestinya setelah enam puluh delapan tahun (setengah abad lebih)  usia kemerdekaan, negara ini dipenuhi dengan para pembangun yang bertanggung jawab. Merekalah yang akan menjayakan bangsa ini. Janganlah menjadi penghianat kemerdekaan.Pengalaman ratusan tahun hidup dalam penjajahan begitu memilukan. Cukuplah hal itu menjadi kenangan masa lalu bangsa kita. Siapa pun tidak ingin menjumpai kondisi buruk seperti itu.

Bangsa Kuli

Kini, setelah setengah abad lebih dan itu bukan waktu yang singkat sebagai bangsa untuk menjadi lebih baik. Jika diukur dari perkembangan negaranya, janganlah kita tengok Jepang yang porak poranda setelah dihancurkan Sekutu dengan bom atomnya namun sekarang menjadi salah satu raksasa ekonomi di dunia. Coba kita tengok saja negeri tetangga terdekat, Malaysia atau Singapura.

Di era tahun 70-an, banyak warga Malaysia yang berguru dan belajar ke Indonesia, atau guru – guru terbaik kita direkrut Malaysia untuk mengajar di sana. Kini, kondisi seperti berbalik 359 derajat. Kini, orang Malaysia menyebut kita sebagai Indon , yang dalam kamus mereka mungkin lebih berarti sebagai bangsa kuli, bangsa TKI, bangsa babu…..

Kini, setelah enam puluh tahun lebih, barangkali kita hanya naik setingkat, satu level, sekarang menjadi konsumen. Produk – produk dan budaya asing kita lahap mentah – mentah. Sedangkan budaya sendiri perlahan justru ditinggalkan. Lihat saja di supermarket, mall, di toko – toko, sulit sekali mendapatkan barang buatan orang kita sendiri. Dari mulai aneka jenis makanan dalam kemasan, perangkat teknologi terbaru, komputer, handphone, motor, perabotan rumah tangga, pakaian, bahkan sampai popok bayi , berapa yang tertulis Made by Indonesia...???
Barangkali kita lebih suka dan merasa lebih bergengsi jika makan fastfood ala Amrik daripada makan pecel atau gado – gado, lebih gengsi jika memakai sepatu Itali daripada made in Cibaduyut. Lebih bergengsi jika menyebut “Ini buatan luar negeri loh….” dan malu saat harus bilang ” Ini produk asli dalam negeri…”. Kenapa masih sulit untuk mengakui bahwa : “Saya orang Indonesia dan bangga dengan apa pun yang Indonesia punya…”

Sampai kapan kita akan terus seperti ini.? Hanya kita yang sendiri yang mampu menjawab.

Dan, sekali lagi bangsa ini sudah setengah abad lebih usianya..? Bukan waktu yang sedikit untuk berubah menjadi lebih baik..

Zainal

Iklan

4 responses

  1. masih banyak yang harus dibenahi ya. mungkin harus dimulai dari mindset kita sendiri supaya peduli dan bangga sama bangsa sendiri.
    btw mas saya pilih sebagai salah satu penerima award Moonshine Blogger Award. silahkan diambil di akhir postingan ini: themoonhead.wordpress.com/2013/08/17/hut-ri-ke-68-the-moon-head-2nd-anniversary/ 🙂

    Suka

    1. terima kasih untuk kunjungan dan komentarnya yang inspiratif sekali. Kita memang harus bangga dengan apa yang dimiliki bangsa sendiri, dan mulai dari diri sendiri.

      Terima kasih juga untuk awwardnya…

      Suka

  2. Setelah 68 tahun merdeka.memang masih banyak PR yg harus kita selesaikan Pak. Mari kita mulai dengan memerdekakan diri dari apapun terlebih dulu, terutama dari stigma bangsa kulimenjadi bangsa kreatif 🙂

    Suka

    1. betul, bu..
      saya sendiri juga belum merdeka dari stigma ini.. perlu keberanian lebih utk melakukannya..

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: