Maaf, nggak Pakai Jika

Sering kita mendapati, dan mendengar permintaan maaf dari seseorang terutama pada saat lebaran. Baik secara lisan maupun tertulis melalui SMS, status / komentar jejaring sosial, dan sebagainya. Namun sayang sekali,

permintaan maaf tersebut masih ada embel – embel “maaf jika saya salah ”  atau “disengaja dan tidak disengaja ” , ” jika kata menggores luka….bla..bla..bla..”, dan kata – kata lainnya yang masih bernada sangat excuse.

Saya juga sering melakukan hal semacam ini. Dan baru menyadari setelah membaca tulisan tentang permintaan maaf kepada Allah atau lebih dikenal dengan istilah taubat, dimana dalam permintaan maaf ada 3 perkara yang harus diperhatikan dan dilakukan :

    • menyadari dan mengetahui kita bersalah
    • menyesali perbuatan itu dan menarik diri agar tidak mengulanginya
    • menutup kesalahan dengan kebaikan

    Kalau merujuk pada ketiga poin di atas, artinya permintaan maaf dengan embel – embel “jika saya salah..” atau “disengaja dan tidak disengaja..” sepertinya masih kurang bermakna dan kurang tulus. Orang yang meminta maaf ini sepertinya tidak perlu tahu dan tidak perlu menyadari kesalahannya.
    Kita masih kurang tulus ketika tidak selalu berusaha mencari kesalahan ” yang tidak disengaja “. Senyatanya kita tidak pernah tahu kapan ucapan, sikap, dan tingkah laku “yang tidak disengaja ” itu berpotensi menyinggung perasaan dan melukai orang lain.
    Terlalu ego kalau kita bilang “maaf jika saya ada salah….”, bla ..bla..bla..”  seolah kita selalu berbuat benar dan sedikit sekali berbuat kesalahan. Dus, kalau kita meminta maaf kepada sesama tanpa tahu apa kesalahannya, tanpa penyesalan (karena semua kesalahan itu “tidak disengaja..”), lalu kapan kita belajar introspeksi diri..??

    Maka dari itu, menyadari akan kekeliruan dan kesalahan yang  saya lakukan dikala kita bersilatuhrahmi kemarin, kini dan mungkin esok.. saya mohon maaf dan ke depan akan berusaha agar lebih baik lagi.

    *Catatan untuk kita semua….
    Betapa memaafkan hanya bisa
    dilakukan oleh mereka yang berjiwa besar, sekaligus menjadi tindakan paling egois, karena seberapa kecil dan besarnya sebuah kesalahan, maka memaafkan dengan penuh keikhlasan itu perkara pribadi, tak mungkin bisa diwakilkan oleh orang lain…

    Salam dari

    Zainal

    Iklan

    6 responses

    1. hahhahahah .. iya .. kosong kosong emang remis ya ? 😀

      Suka

      1. Hehe..lha tujuannya mau minta maaf apa main catur..

        Suka

    2. kalau dipikir iya juga ya….
      kmren aku juga ada baca katanya sebaiknya kalau ngirim sms gtu disebutin ke siapa kita minta maaf.. bukan asal copas aja trus di kirim ke banyak orang.. 🙂

      Suka

      1. itu sih sah – sah aja, cm kayaknya perlu dipertimbangkan mau minta maaf apa mau kirim copasan..hehe

        Suka

    3. Jika tangan tak kuasa menjabat, jika raga tak kuasa bersua.. hahaha.. jadi inget sms ucapan lebaran..
      nice artikel.. maaf tanpa embel2 ya mas

      Suka

      1. saat lebaran kemaren saya juga menerima beberapa SMS dr teman2 yg intinya minta maaf, ada yg puitis, ada juga yang to the poin, malah ada yg cuma ” kosong – kosong ya, mas..” kayak bal – balan wae…
        masing2 punya cara utk minta maaf dan harus ttp dihargai..meskipun dng cara yg kurang kita sukai.

        Suka

    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: