Di Kala Sang Bulan Purnama

Sebentar….
Rembulan tengah purnama, sinar cahayanya menerangi seluruh penjuru langit dan jagat raya. Bintang gemintang bertaburan menghias angkasa, udara begitu sejuk, semilir angin yang sepoi, dan kabut tipis menyelimuti bukit.

Betapa nikmat tersaji begitu rapi dalam bejana – bejana indah, terpajang di atas meja – meja waktu, dan senantiasa  berganti menu dan cara penyajian yang beda.

Hingga bila pada satu penggalan waktu tiba – tiba terasa sangat getir, pahit, atau terasa sangat berbeda dari sebelumnya, semata untuk menjaga agar semakin peka dalam merasa dan semakin dekat dengan Sang Penyaji..Sebab senyatanya, suka atau tidak suka, nyaman atau tidak nyaman, dengan keikhlasan atau tidak ikhlas, terima atau tidak terima, selera atau tidak selera, setiap menu hidangan yang Dia sajikan selalu dalam takaran dan racikan laa yukalifullahu nafsan illa wus’aha…..( Allah tidak akan menimpakan sesuatu apa pun kepada hamba-Nya melebihi batas kemampuan -red)

Gemeriyap bintang di langit, sinar rembulan purnama yang teduh, desah serangga malam, suara jangkrik, keriuhan anak – anak kecil bermain petak umpet, slodoran, atau duduk bercengkerama dengan orang – orang terkasih, adalah keindahan yang biasa dan masih bisa dinikmati, sejak dulu saat belia hingga rembulan purnama kali ini….

Namun, seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia, dan berkurangnya fungsi – fungsi pengindraan, penglihatan, dan pendengaran, semua keindahan itu akan semakin sulit dirasakan.. Sebab senyatanya tak ada seorang pun yang mampu menjamin dirinya sendiri bahwa esok semua pengindraan ini masih normal dan menjalankan fungsi sebagaimana mestinya..

“…coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang…..”  (Ebiet G. Ade)

Iklan

16 responses

  1. Dan sekali lagi sang pujangga pun menulis tulisan tingkat tinggi *adatangga?pinjem dunk* 😆

    Btw Pak Dhe niki megawe nopo nggih?

    Suka

    1. gaweanku macul, nduk.. karo ngoker2 pawuhan….

      …demikianlah sang pujangga kesiangan ini yg dari bibirnya selalu terlantun kata – kata indah, yg bila membaca tulisannya akan terpana, terlena lalu mlukek mlukek…hoeekg..

      Suka

  2. kapan kemarinhabis dinner berjalan malam di bawah sorotan jutaan bintang bersama Mama dan suami kang, asyik bgt sambil gojekan 🙂 …. kerap juga bersepeda malam dgn suami kang di bawah sinar rembulan, wow .. sensasinya luar biasa apalagi pas melewati hutan di jalan timur perumahan, keren bgt 😛

    Suka

    1. tentu terasa indah menikmati setiap kebersamaan bersama orang2 terkasih ya, mbak..

      Suka

      1. iya kang, tak ternilai harganya, kebayang khan sampeyan dewekan ning nggon mbogae adoh soko wong wong sing ning omah ? 😛

        Suka

      2. tapi ojo mbayangke daku plonga plongo neng alas karo garuk – garuk kepala lho ya, mbak….

        heheee..

        Suka

      3. terus lapo kang ning kono ?

        Suka

      4. semedi memohon petunjuk gmna caranya supaya Miss Universe datang ke rumahku terus tak kon ngeriki punggungku sama mijeti drijiku yg pegel2…..wkwkwkkk

        Suka

      5. hahahaha …. semoga impianmu terkabul y akang, who knows ya ? 😛

        Suka

  3. Bagus nih.. padat dan tepat sasaran, alur ceritanya pun enak dibaca

    Suka

    1. terima kasih, untuk mengingatkan diri sendiri aja kok, Pie.

      Suka

  4. Mari atuh kita nikmati dan syukuri setiap nikmat yang telah Allah berikan..^_^

    *sambil menikmati sinar matahari yang kembali hadir*

    Suka

    1. iya, teh Wie. kata ustadz kalau banyak syukur makin banyak dikasih dan diberi sama Allah.

      disini dah beranjak malam, teh..

      Suka

      1. Dalam Al Qur’an juga banyak dituliskan tentang keutamaan bersyukur …

        Disini baru pukul 13:30 siang.. Sebentar lg Ashar jam 2 🙂

        Suka

      2. selisih waktunya 6 jam- an dengan tanah air ya, teh..?

        betapa banyak nikmat Allah yang diberikan kepada manusia ya, teh. tinggal bagaimana kita menerima dan mensyukurinya…
        ah, terus terang saya jadi malu sama diri sorangan kalau ngomongin beginian….

        Suka

      3. Iya kalau dgn waktu wib bedanya 6 jam, krn musim dingin, kalau musim panas 5 jam.

        Iya teteh jg malu betapa banyak nikmat yg sudah diberikan Allah, betapa sedikitnya syukur teteh..*narik nafas panjang*
        Semoga kita termasuk golongan yang selalu bersyukur..aamiin.

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: