#37. Sehalus Embun di Musim Panas

image

sehalus dan semurni embun pagi di musim panas
perlahan buliran hangat air mata menembus pori pori pipi
seperti melekatnya debu musim panas pada tembok
lorong – lorong kosong dan dedaunan palem di dermaga…

mega – mega putih berarak sayap – sayap burung laut berkepak…
matahari mulai memudar menyisakan garis kuning di cakrawala…
mengapa terasa sangat berat namun tak terlihat beban yang ku bawa…
ketika perlahan kaki melangkah dan kapal pun bergerak beranjak
meninggalkan buih – buih ombak riak gelombang
yang semakin menjauh menjauh dan menjauh sebelum
sama sekali lenyap
bersama bisikan lirihku yang tertelan deru air laut “aku akan pergi..”

dan sesaat sebelum matahari benar – benar tenggelam
aku tetap kokoh berdiri
dalam desahan nafas panjang
mendekap dada yang terasa sangat sakit menyesak di hamparan belantara jiwa
kau hadiahkan sebagai wujud rasa cinta
tak ada lagi kata indah dapat ku rangkai hanya bibir rapat terkatup
aah kamu..selalu saja mampu menjatuhkan buliran bening ini
menyirami dan menyejukkan bathin atas derita gilasan sang waktu yang memedihkan..

****
uhuug..uhuuggg..kluntrung..kluntrung…..byooorrrrr……hahahaaaaa

Zainalisme : ‘Selalu ada hikmah dan berkah dari setiap kehadiran’, yang telah lewat biarlah tertimbun dalam gundukan – gundukan tanah masa lalu..

Iklan

13 responses

  1. potone kok peteng kang ?

    Suka

    1. nek padang yo embune wis ilang,mbak.. hehee….

      Suka

      1. wah .. beda sawah yo kang

        Suka

      2. beda parine juga…

        Suka

      3. beda parine juga…

        Suka

      4. kinjenge ugo

        Suka

  2. foto sama essainya bagus Mas. ๐Ÿ˜€

    Suka

    1. terima kasih, mas Dani. sekedar belajar mengungkapkan nuansa rasa saja lewat kata – kata bersayap..*cieeeehh..
      bahwa dalam diri setiap pribadi ada sisi melankolis yg kadang nggak cukup keberanian tuk mengungkapnya..kuatir dianggap cemen..hehehe..

      Suka

  3. Yang lalu biarkan tersimpan dalam kotak pandora yang cukup sesekali dibuka

    Suka

    1. seseorang yg pernah hadir dengan segala kekurangan dan kelebihannya terkenang sedemikian rupa, menjadi bagian dr perjalanan hidup… tidak perlu alergi dengan masa lalu, betul begitu, Bu Ika..?

      Suka

      1. Waduh .. Waduh.. Keren sekali bisa slg bersahutan pake kalimat puitis ya.. ๐Ÿ˜‰

        Photonya keren, pake kamera apa ya? Pinjem boleh gak?

        Suka

      2. photo kamera hp kok,jeng. anane yo ming iki, arep tuku kamera tenanan yo rung iso…

        baru nyadar ya kalau kangmas Zainal al gemblungi wal koplaky ini keren dan sangat puitis romantis..hahaha

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: