Pasrah

“Bertahanlah dan tetaplah bersabar, di balik semua yang kau alami dan rasakan, yakinlah bahwa ada setitik cahaya harapan yang tersisa atas segala ikhtiar…” jawabku menanggapi keluhannya dan berusaha meyakinkan dan menyemangatinya. Walau aku sendiri tak yakin andai aku ada difihaknya dan menjalani semua deritanya apakah akan mampu bertahan sejauh ini seperti yang telah dilakukannya. Enam tahun bukan waktu yang sebentar untuk merawat dan menjaga suaminya yang hanya terbaring dalam kelumpuhan, tiada berdaya dan selalu mengandalkan bantuan orang lain untuk sekedar bangkit duduk bersandar di pembaringan. Suami wanita ini telah enam tahun lebih menderita kelumpuhan total. Dia mengidap kanker otak yang telah sangat parah dan merusak hampir seluruh syaraf – syaraf motoriknya. Anggota tubuhnya tak dapat lagi bergerak normal, kedua tangan dan kakinya telah menjadi lumpuh.

“Aku tak sanggup lagi, ingin ku menangis namun air mata ini barangkali telah mengering karena seringnya tertumpah.”

“Menangislah, air mata adalah satu – satunya cara bagaimana mata berbicara ketika bibir tak mampu lagi menjelaskan apa yang terpendam dalam perasaanmu ..” kembali dengan sok bijak aku berusaha sedikit menghiburnya. Terbayang betapa beban hidup begitu berat menghimpit yang harus ditanggungnya. Sebagai seorang wanita dia tak hanya ibu dan istri bagi suaminya yang menderita kelumpuhan sejak lebih enam tahun lalu. Dia kini juga seorang kepala keluarga menggantikan kedudukan suami tak berdayanya, dialah kini satu – satunya pencari nafkah bagi keluarganya, belum lagi biaya hidup dan sekolah kedua anak – anaknya yang masih belia serta biaya perawatan dan pengobatan suaminya. Berbagai upaya pengobatan telah ia lakukan semampunya, bagaimana dengan operasi ?  Ya ya ya.. Operasi membuka sebuah harapan baru bagi suaminya, tetapi sekaligus menyajikan angka – angka laksana rumus matematika yang teramat rumit bagi wanita ini. Penjumlahan dari sekian penambahan dan perkalian.

“Tapi sampai kapan…..?? Aku menginginkan adanya kepastian dan mengakhiri penderitaan ini…”
Aku terpana sejenak mendengar kata – katanya kali ini. Ada kegelisahan yang tersirat dan terwakilkan dalam kata – katanya. Sungguh selama ini aku mengagumi betapa besar rasa pengabdiannya pada suami dan keluarganya.

“Sampai engkau benar – benar merasa sudah tidak sanggup lagi, dan ketika semua ikhtiar dan usaha terbaik telah kita tempuh, tinggalah menjadi tugas dari kedewasaan nalar dan kekuatan bathin kita untuk menyertakan Tuhan dengan seiklas ikhlasnya…”
Oh, iya kenapa engkau berkata seperti itu, aku begitu kagum atas pengorbanan dan pengabdian tulusmu pada suami dan keluargamu. Selagi engkau dapat menjalani dan melewatinya dengan tulus ikhlas, itu adalah ladang pahala bagimu…” kataku kemudian  dan berusaha menyelami maksud kata – katanya tadi.

Betapa bodohnya aku berkata seperti seorang ahli kejiwaan atau pakar konsultasi spiritual yang berlagak tegar penuh keteguhan menghadapi setiap persoalan dan derita. Sungguh seringkali terjadi menimpa pada manusia, tak terkecuali diriku sendiri, ketika dilanda badai penderitaan seolah tiada berujung, nasib yang tak kunjung berubah, masalah yang datang silih berganti, sakit hati karena ditolak kerja atau ditolak kekasih, pada saat demikian seringkali mengajarkan manusia menjadi seorang yang munafik. Secara lahiriyah kepada semua orang dia katakan, “Aku dapat menerima kenyataan ini, aku bahagia atas segala titah kodrat dan nasib yang kujalani, aku yakin inilah jalan terbaik yang Tuhan berikan….” seolah dia begitu yakin akan seberapa besar keimanan dalam jiwanya. Tetapi sesungguhnya kebanyakan dari manusia yang demikian, di dalam bathinnya tak jarang menyalahkan Tuhan dan menganggap dirinya telah teraniaya dan Tuhan telah berbuat tidak adil padanya. Wal’iyadzubillaahi…..

Suasana mendadak sepi. Tak ada di antara kami yang mengeluarkan suara. Aku sendiri seperti terhempas dalam jurang lamunan teramat dalam, menyimak kembali titah kodrat yang harus kutempuh dan garis nasib yang ku lalui.
Berkaca diri sejauh mana dan seberapa mampu menghadapi setiap derita.

“Lahiriahnya aku memang seorang istri, punya seorang pendamping hidup, namun hari – hari yang terlewati terasa kian sepi. Tak ada teman tuk saling berbagi lagi….Beri aku saran..! ” suaranya kembali terdengar dan membuyarkan sejenak lamunanku. Aku terkejut mendengarnya.

Sejenak menghela nafas. Sejujurnya aku sendiri tidak tahu harus bagaimana menanggapi kalimat yang diucapkannya. Aku mulai merasa tidak enak jika terus memberikan pendapatku terlebih untuk hal – hal seperti ini.

“Aku minta maaf, untuk yang satu ini aku tidak bisa memberimu saran apa – apa. Sebaiknya engkau bicarakan tentang ini dengan ibumu, kerabat , keluarga, atau teman sesama wanita yang menurutmu cukup dewasa dan dapat kamu percaya..Ehmmm…”

Sebagai teman kita memang seharusnya saling menguatkan dan saling menentramkan, dalam batas tertentu. Sebagai seorang yang cukup dewasa, aku juga tahu tidak semua hal kita harus tahu dan terlibat. Meskipun berteman, tetapi sebagai lawan jenis jika tidak hati – hati bisa masuk dalam situasi emosi yang berbeda.

Setelah berbasa – basi sebentar sekedar mengalihkan perhatian pembicaraan lewat telepon pun berakhir. Tuts.!

Senja temaram telah terlewat, malam pun kian menjelang. Penghujung hari yang teramat sepi, dalam nyanyian serangga malah yang tak pernah ada jawab, seakan mengiringi jeritan bathin dalam jiwa yang mulai terkoyak, perlahan ku langkah kaki meninggalkan lereng bukit itu..
” Tidak cukup membicarakannya saja atau menjadikannya sebagai bahan pergunjingan..Temanku..bersabarlah, bertahanlah penuh kepasrahan, adalah tangan Tuhan yang menjadi penentu atas segala titah kodrat bernama takdir, yakinlah tangan itu akan segera terjulur padamu……..……………”

Beberapa minggu kemudian……

Bersambung…..

*kalau nggak males ngetik..

eh iya, judulnya yang cocok buat cerita ini apa ya.??..

Iklan

11 responses

  1. tok tok tok … assalamualaikum….
    pundi nggih tiyang ipun? apakah baik baik saja?

    Suka

    1. waalaikum salam wr.wb.
      kabar baik. tiang jembatan po ..??

      Suka

  2. sebuah ujian yang cukup berat sebagai seorang istri. tapi bukankah Allah tidak akan memberikan kita masalah melebihi kemampuan kita untuk menyelesaikannya?

    Suka

    1. setuju sekali, Mas. secara implisit sudah dijelaskan dalam kitab Suci bahwa Allah tidak akan menimpakan segala sesuatu kepada hamba-Nya melebihi kemampuan dan setelah kesusahan pasti akan ada kemudahan…fainnama’al ‘usri yusro…

      Suka

      1. sepakat dan nggak ada salahnya kita saling mengingatkan, bro

        Suka

  3. Duh bacanya jadi sedih, sangat tidak nyaman suasananya. Tapi setiap orang punya teman untuk berbagi, selalu temani dia saat baik dan buruk ya..

    Suka

    1. menjadi tugas dalam pertemanan dan persahabatan, manusia saling melengkapi,saling menguatkan, saling memberi panduan..

      sebagai teman…yah..sebisa dan semampunya menjaga agar pertemanan itu tetap terjalin..asal jangan teman tapi mesra aja..haaaaa

      Suka

  4. Pasrah juga sudah pas Kang dijadikan judul.
    Semoga beliau segera diberikan jalan keluar terbaik ya Kang..

    Suka

    1. terima kasih,Bro. jadi judulnya biar “Pasrah” saja ya.. saya juga setuju, mau dikasih judul lain kok malah bingung..

      Aamiin.terima kasih sudh ikut mendoakan.. Mudah2an, semakin banyak yg mendoakan akan diijabah oleh Allah..

      Suka

  5. judulnya curhat seorang istri kang ?

    mungkin menjadi pendengar buat beliau itu untuk berkeluh kesah juga sudah merupakan sesuatu yg berarti buat sang istri itu kang, mungkin memang hanya kamu Saat ini yg dipercayai dia, bener nggak ?

    Suka

    1. mungkin saja begitu,mbak. bisa juga karena pertimbangan lain, mudah2an sekarang kondisinya sudah lebih baik.. kasihan dia.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: