Selamat Siang. Ada yang bisa dibantu.?

Setelah mengantar istri ke lapak jualannya, pagi ini saya juga harus ke agen DAMRI mengambil paket seal penutup gelas plastik yang kami pesan dari  agen franchise teh Poci di Pontianak. Terpaksa harus menunggu beberapa saat, sekitar setengah jam karena mobil yang dititipi membawa barang kirimannya belum sampai.

Kemudian, setelah dari agen Bis DAMRI, saya sekalian ke BCA di Sui Durian untuk mengirimkan uang pembayaran pesanan tadi.
Baru saja saya masuk sudah disambut ,” Selamat siang, ada yang bisa dibantu.?” begitu sapanya dengan senyum ramah pula.
Belum sempat saya menjawab sapaannya ,kembali satpam tadi bilang,” Kalau mau transfer di lantai dua, Pak.” dia berusaha menjelaskan sambil mengiringi langkah saya dan mengambilkan nomor antrian.
Setelah mengucapkan terima kasih saya segera menuju lantai #2 dan kembali disambut satpam lainnya dengan sapaan yang sama,”Selamat siang, ada yang bisa dibantu..?”
Awalnya saya anggap sebagai hal biasa, saya tersenyum dan tanya sedikit keperluan saya.Pak satpam ini menjelaskan dengan singkat dan dengan ramah pula dia menunjukkan tempat dimana saya bisa mengambil slip.

Saya dapat antrian ke -41 untuk menemui Customer Service /CS. uufth.!. Sementara di belakang saya antrian makin bertambah. Untunglah hanya tinggal beberapa orang saja yang antri sebelum saya. Saya mendengar CS memanggil, “Nomer tiga puluh.!”
Sedikit lega, berarti nggak harus menunggu terlalu lama lagi.
Saya duduk di dekat Pak Satpam tadi.

Puluhan orang turun naik, maksud saya keluar masuk dengan berbagai keperluan. Saya jadi mengamati orang – orang yang keluar masuk dan pak Satpam tadi. Pak Satpam masih saja ramah dan menyapa semua orang dengan kalimat yang sama. “Selamat siang, ada yang bisa dibantu..?”

Setelah keperluan selesai saya bergegas melangkah turun ke lantai 1 dan pak Satpam tadi kembali menyapa dengan ucapan terima kasih.
Sesampainya di pintu keluar kembali sapaan ramah dari pak Satpam pertama yang bertugas di lantai bawah. Dengan sigap pula dia membukakan pintu, tak lupa ucapan terima kasih kembali saya terima. Dan lagi – lagi saya hanya tersenyum sambil melangkah keluar.

Yang menarik ketika saya memperhatikan pak satpam tadi, ternyata tanggapan orang – orang berbeda – beda dengan sapaan ramah pak satpam. Ada yang tersenyum ramah sambil memberi isyarat kalau dia sudah biasa ke bank tersebut, untuk menabung atau keperluan lainnya, ada juga yang melengos berlalu begitu saja menganggap sepi sapaan pak Satpam tadi, ada juga yang bertanya ini – itu..
Meskipun begitu, pak Satpam ini tetap ramah ke semua orang, sikap sebagian orang yang kurang mengenakkan itu sepertinya tidak memberi pengaruh dan efek berarti baginya.Dia tetap menyapa ramah.

Ya, kita semua juga tahu kalau dia sudah dilatih untuk menghadapi sikap konsumen seperti itu, sebagai bagian dari profesionalisme. Bukan begitu..?? Tapi kita juga menyadari, lebih tepatnya memahami dan mengerti bahwa bersikap demikian ( seperti kedua pak satpam tadi) bukanlah hal mudah dilakukan. Mereka, maksud saya kedua pak satpam tadi juga manusia lho..seperti kita.
Saya jadi berpikir, bagaimana sikap saya tadi. Jangan – jangan keramahan yang saya berikan tidak cukup setimpal kepada pak Satpam itu, seperti yang dia berikan kepada saya. Bagaimana pula dengan sikap saya kepada orang – orang lain…?????????????????????????????

18 Februari 2014

Posted from Kidule Omah

Iklan

16 responses

  1. kalau rajin mengamati, nanti bisa membedakan mana yang ucapannya tulus dari hati atau karena sekedar menjalankan tugas 🙂

    Suka

    1. kalau menurut saya berawal dari sekedar menjalankan tugas itulah yg akhirnya menjadi kebiasaan [baik]…
      dn kita juga punya tugas yg sama : berbuat baik..

      Suka

  2. paling zaman kalau datang ke bank pak,

    semua ramah, seharusnya iklas beramal kita pun seperti pak satpam apapun tanggapan orang lain tidak berpengaruh.

    Suka

    1. iklas itu tataran tingkt tinggi,..cuma mudah diucapkan dan sringkali keikhlasan kalah sama pencintraan..

      Suka

  3. Hal itu menunjukkan bahwa tidak semua orang akan menghargai sikap kita tergantung dari pribadinya masing-masing 🙂

    Suka

    1. setuju, bro.. bahkan ketika berbuat kebaikan sekalipun kita tidak sepantasnya berpikir tentang pahala, justru sebaliknya harus bersiap untuk sakit hati, karena disitulah sebenarnya keikhlasan teruji..

      Suka

  4. jd inget pas ke bca november lalu kang

    Suka

    1. aku malah nembe pisan kuwi ning BCA, biasane ming ning Bank Nafas..

      Suka

      1. ojo mlongo ah..!! kredit ambegkan di bank nafas nggak pake agunan lho mbak.. heehe

        Suka

  5. hampir saya temui para petugas yang seperti itu. saya sangat salut apalagi sangat kagum yang luar biasa tiada kira.. semoga setiap pekerja di tuntut untuk seperti itu ya

    Suka

    1. maksudnya gimana nih..??
      komentarnya kok mbulet mbulet tho…maaf..

      Suka

  6. salut dengan pak satpam. saya pernah membuat tulisan yang mungkin rada-rada mirip dengan cerita di atas….judulnya “terima kasih pak satpam”

    Suka

    1. walaupun sikap satpam yang ramah itu bagian dr pekerjaannya tetap saja ya dia itu manusia yg punya hati dan perasaan…termasuk ketika harus menerima tanggapan yg kurang mengenakkan dr orang lain..
      mungkin kalo saya yg jadi satpamnya sudah ngasok – ngasokke……

      Suka

  7. Saya dulu yang biasa mengucapkan salam pas ada nasabah datang ke cabang tempat saya kerja Kang. “selamat pagi/siang, ada yang bisa dibantu Ibu/Bapak?” sambil menyodorkan tangan untuk salaman/mempersilahkan duduk

    Suka

    1. diluar tuntutan profesi pasti juga tetap begitu ya,bro..mksude tetep ramah kpd siapa saja..

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: