Mencintai Indonesia Dimulai Dari Aku….

Mari sejenak kita tinggalkan hingar bingar suasana menjelang Pilpres, mari kita bicara tentang cinta. Meskipun Pilpres sepertinya memang sangat penting bagi bangsa ini untuk menentukan siapa yang akan menjadi pemimpin negara selanjutnya. Fenomena dan fakta sosial politik menjelang Pilpres sepertinya telah sangat menyedot emosi seluruh bangsa ini, membangun keterpihakan yang menggebu-gebu mengelu-elukan figur pilihan masing-masing sekaligus dengan detail berusaha untuk menistakan pihak lawan. Namun, faktanya Pilpres sepertinya menjadi perkara hidup mati bagi bangsa ini karena melibatkan tema agama,suku, ras, dan seterusnya. Semestinya fenomena sosial politik seperti saat ini menjadi bagian penting dari suatu pembelajaran. Pembelajaran untuk kita agar semakin gigih menjaga persatuan dan kesatuan bangsa agar tetap kokoh,utuh, dan semakin solid. Juga pembelajaran bagi kita untuk semakin mencintai Tanah Air dengan segala keragaman budaya,suku,agama,dan bahasa dalam ke-Bhinneka Tunggal Ika-an yang rukun,damai, sentosa menuju masyarakat adil makmur sejahtera. Inilah yang penulis maksudkan dengan cinta di sini, yakni cinta Tanah Air.

Tentu kita bangga dan bersyukur menjadi bagian dari negara yang unik ini. Sehingga, karena saking uniknya, negeri ini selalu menjadi “incaran” pihak negara lain. Bagaimana tidak unik, dengan jumlah penduduk yang sangat besar (lebih dari 200 juta jiwa saat ini) dengan beragam suku,agama, dan budaya mampu hidup dalam kerukunan serta dikenal dengan keramahtamahannya. Selain itu,negeri tercinta ini juga memiliki keindahan dan kekayaan alam yang melimpah ruah yang terbentang dari Sabang sampai Merauke. Masih banyak lagi keunikan-keunikan yang dimiliki bangsa dan negara ini yang tak dimiliki oleh bangsa-bangsa lain di dunia. Keunikan lain misalnya, buah-buahan apa pun dapat tumbuh dan berkembang di bumi negeri kita. Apel ?  Kita punya apel Malang. Anggur?  Kita juga punya anggur Bali. Belum lagi keragaman aneka flora dan faunanya, kekayaan hutannya, aneka tanaman obatnya yang sangat banyak dan sangat bermanfaat, dan sebagainya…dan sebagainya.

Namun, rasa bangga dan syukur tersebut seharusnya tak hanya terucapkan melalui lisan,terucap di bibir saja. Rasa bangga dan syukur tersebut hendaknya diejawantahkan menjadi tindakan,sikap dan laku kehidupan dalam bentuk Cinta Tanah Air. Lalu bagaimana semestinya bentuk Cinta Tanah Air itu..? Jika diminta menjawabnya,maka akan saya jawab,”semuanya dilakukan dengan cara sederhana dan dimulai dari ‘aku’.

Apakah ‘aku’ telah benar-benar Cinta Tanah Air Indonesia..?

Akan saya mulai dari ‘aku’ sendiri. Apakah aku telah sepenuhnya mencintai Indonesia..? Aku belum yakin, karena dari banyak segi aku masih belum terbukti mencintai Indonesia sepenuh hati. Apa buktinya.

Segi bahasa

Aku terlahir serta dibesarkan di Indonesia yang kaya akan keragaman bahasa namun “menjunjung tinggi bahasa persatuan,Bahasa Indonesia”. Kenyataan, penguasaan bahasa Indonesia-ku masih belepotan/amburadul. Aku juga merasa lebih bangga dan keren jika bisa berbahasa asing atau menggunakan istilah istilah dari bahasa asing ketika ngobrol atau berbicara sehari-hari.

Segi Nama

Kalau soal nama sebenarnya aku lebih suka jika namaku adalah : Karyo, Tejo, Ponco, atau Santoso. Nama yang benar-benar asli Indonesia. Makanya aku memberi nama anakku dengan nama Indonesia, Alif dan Hidayat.
Aku merasa sangat heran ketika menjumpai nama nama anak-anak kecil di kampungku ternyata sangat sulit ku eja dengan lidahku. Langka sekali yang bernama : Kusiman, Suminah, Yanto, apalagi Paino atau Ngatmi.

Segi Seni dan Budaya

Jujur,sampai kini aku masih menaruh minat untuk bisa belajar gamelan. Rasanya tentram sekali mendengarkan suara klenengan gending-gending karawitan. Aku juga menyukai aneka kesenian tradisional terutama wayang kulit.
Tapi,faktanya aku lebih sering  mendengarkan lagu-lagu bergaya Barat dari grup-grup band.

Aku juga sudah nyaris kehilangan ‘keramahtamahan,adab sopan santun atau unggah-ungguh. Seringkali aku tidak menyapa atau sekedar permisi ketika melewati tetangga. Kalau pun menyapa biasanya melalui klakson kendaraan.

Sebenarnya masih banyak lagi segi segi lainnya yang dapat aku jadikan ukuran kadar cinta Tanah Air-ku.Contohnya :
Aku juga merasa lebih bangga jika bisa makan fred ciken, kentaki,atau mek donal daripada makan pecel,gado-gado,atau makan diwarung nasi/warteg. Aku lebih suka pergi ke super market atau swalayan untuk sekedar membeli korekan kuping (barang yang tidak penting) daripada membelinya di pasar tradisional atau warung kelontong. Aku juga lebih sering mengotori dan merusak keindahan alam negeri ini dengan membuang sampah sembarangan,menebang kayu di hutan sesuka hati tanpa pernah menanam pohon kembali.Aku juga merusak dan mengotori sungai-sungai yang tadinya jernih mengalir menjadi keruh berlumpur…
Aku juga kerap tidak memperhatikan rambu-rambu lalu lintas. Masih banyak hal lain yang belum ku lakukan sebagai bentuk rasa cinta Tanah Air terhadap negeri tercinta ini.

Meskipun belum seberapa tingkat cinta tanah air yang aku miliki, namun aku akan terus berusaha dan berjuang untuk memupuknya agar tumbuh subur. Salah satu caranya aku harus memulainya dari keluargaku sendiri. Bibit bibit cinta tanah Air itu harus aku semaikan sejak dini terhadap anak-anakku.

Sebagai warga negara aku juga punya pengharapan terhadap negeriku tercinta.
Apa yang aku ingin dari negeriku Indonesia..?

Aku ingin negeri ini mampu menyiapkan satu generasi penerus yang tangguh. Aku ingin :
1. Negeri ini memiliki semacam “tempat penampungan khusus” dan mengisolasi satu generasi penerus bangsa. Tempatkan mereka di satu pulau dan terisolasi dari pengaruh dunia luar sama sekali. Didik mereka dengan para pengajar yang memiliki IQ,EQ,dan SQ tingkat jenius yang dimiliki bangsa ini. Lalu pada saatnya tampilkan mereka memimpin negeri ini.

2. Aku juga ingin dipinggir-pinggir jalan terpampang baliho besar foto anak-anak Indonesia  generasi penerus yang berprestasi. Tulis besar besar nama mereka dan jadikan berita utama media dan koran-koran. Bukan hanya memajang baliho berisi foto para pejabat yang ketika anak-anak kecil bertanya, “Itu foto siapa,Pak..?”
Jawaban apa yang akan diberikan jika ternyata itu foto pejabat yang terbukti korupsi.

Anak anak bangsa ini jauh akan memiliki rajutan sejarah
yang cemerlang, mengasyikan untuk dikenang,dibandingkan mengingat tingkah polah kita yang
senyatanya bersusah payah dan mulai beranjak tua. Bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang
menghormati pahlawannya,namun juga yang memperhatikan dan peduli pada nasip anak anak generasinya.

3. Aku ingin para koruptor penggasak uang negara dihukum. Jangan hanya penjarakan mereka,tapi miskinkan mereka dan berdayakan sebagai pekerja (menjadi pekerja  paksa ) untuk membangun jalan-jalan,jembatan,gedung gedung sekolah, waduk dan sebagainya.

Akhirnya, aku hanya berharap semoga Pilpres tahun ini benar-benar melahirkan pemimpin yang dapat mengayomi, melindungi, dan membawa perubahan menuju Indonesia yang ber”Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”
Pilpres yang membawa kesadaran baru bagi seluruh bangsa Indonesia agar bersatu padu,bahu membahu, sepi ing pamrih rame ing agawe, untuk menuju cita-cita luhur seluruh rakyat Indonesia yaitu adil makmur sentosa. Dan perubahan di negeri nan elok dan unik ini seharusnya dimulai dari ‘aku’.
Aku harus lebih mencintai Indonesia-ku dari sekarang….

Salam.

Artikel ini diikutsertakan dalam : Kontes Unggulan Aku dan Indonesia

image

Iklan

6 responses

  1. Apik ki… melu ah kang 😀

    Suka

    1. melu ngendi…??? nggowo sangu dewe lho ya..?? heheee

      Suka

  2. Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam Kontes Unggulan :Aku Dan Indonesia di BlogCamp
    Dicatat sebagai peserta
    Salam hangat dari Surabaya

    Suka

    1. saya juga mengucapkan terima kasih telah memperkenankan ikut meramaikan kontesnya,Pak Dhe.
      juga terima kasih sudah berkenan ke Kandang saya..

      salam hormat saya dari Sintang

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: