SCP : PETI Merusak Lingkungan, Menunjang Ekonomi

image

siapa yang tergiur menambang emas kalau setiap hari seperti ini, 50 gram emas dalam genggaman..

Seperti yang telah saya ceritakan di postingan sebelumnya, Mengintip PETI, secara ekologis kegiatan penambangan emas tanpa ijin (PETI) yang kian marak di sejumlah wilayah Kalimantan Barat memang berdampak buruk dan merusak lingkungan. Lokasi penambangan yang sudah ditinggalkan akan berubah menjadi kubangan-kubangan yang luas dan hamparan tanah pasir. Seperti yang saya lihat di lokasi Lombak ini.
Tanah garapan para penambang yang dulunya adalah areal persawahan dan ladang ladang masyarakat kini berubah menjadi kubangan besar mirip danau dan hamparan tanah pasir. Sungai sungai kecil yang melintas di desa tersebut, juga melewati beberapa desa lainnya menjadi sangat keruh dan berlumpur.
Warga sekitar lokasi PETI kesulitan memperoleh air bersih. Untuk kebutuhan air minum kebanyakan masyarakat membeli air galon yang harganya juga relatif mahal.(Di Lombak harganya Rp 15.000/galon).

Aktifitas PETI yang umumnya dilakukan secara sporadis tersebut, akan semakin meluas ke lokasi lainnya seiring menipisnya kandungan emas pada lokasi yang sedang dikerjakan. Para penambang akan terus bermigrasi mencari lokasi-lokasi baru yang diduga mengandung emas. Kerusakan hutan dan lingkungan di wilayah Kalimantan Barat akan semakin meluas dengan adanya kegiatan PETI. Ikan di sungai terancam terkontaminasi air raksa yang secara tidak langsung akan berakibat bagi kesehatan manusia bila dikonsumsi. Air sungai menjadi keruh dan kandungan air raksa yang mencemarinya kian mengkhawatirkan melebihi ambang batas yang diperbolehkan. Keadaan ini memang memprihatinkan.
Namun, dari sisi ekonomis kegiatan pertambangan emas juga telah menjadi penunjang ekonomi bagi para pekerja dan juga masyarakat di sekitar lokasi.
Sebut saja Pak Ran misalnya, yang telah bekerja sebagai pekerja tambang emas selama lebih 10 tahun. Dari pekerjaannya sebagai kuli tambang Pak Ran bisa membiayai anak-anaknya sekolah dan mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Lain lagi yang dituturkan Uwak, teman kerja serombongan dengan Pak Ran
“Yah, mau kerja apa lagi kalau nggak ndompeng.Mau daftar jadi karyawan perusahaan atau pegawai negeri nggak ada ijasah.Ketrampilan lain juga nggak punya…!”
Mereka berdua hanya buruh yang menjual tenaga sebagai pekerja pada salah seorang bos tambang.

PETI seringkali menimbulkan pertarungan ideologi. Mana yang harus diutamakan terlebih dahulu,urusan perut manusia atau pengaruhnya yang berdampak pada kerusakan lingkungan..?
Kurangnya ketersediaan lapangan kerja membuat rakyat kecil harus berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup. Menjadi pekerja tambang salah satunya. Ribuan orang rakyat di Kalimantan Barat menggantungkan hidupnya dari menambang emas. Di Lombak dan sekitarnya misalnya,saat ini ada sekitar 2000-an orang mengadu nasib mereka. Belum lagi di lokasi-lokasi lainnya di wilayah Kalimantan Barat. Selain berasal dari penduduk lokal sekitar lokasi, para penambang kebanyakan berasal dari Sanggau,Sekadau, Singkawang, Landak, dan Sintang. Para penambang akan terus bermigrasi dari satu lokasi ke lokasi lainnya yang lebih menjanjikan dan dianggap kandungan emasnya lebih banyak.

Selain para penambang, di lokasi PETI juga biasanya terdapat pendulang-pendulang liar yang dalam bahasa setempat biasanya disebut sebagai pengrekek. Para pengrekek ini biasanya mendulang di tempat tempat para pendompeng mengampuk karpet/mendulang emas, atau mengambil areng/banyi dari lobang pendompeng.Penghasilan para pengrekek juga lumayan,meski tetap saja bersifat spekulatif.
Maraknya lokasi penambangan emas juga memancing para pedagang keliling dari daerah lain untuk datang. Kang Dul, salah seorang pedagang sayur keliling yang berasal dari Pati, Jawa Tengah misalnya. Setiap pagi dia datang ke lokasi penambangan menjajakan dagangannya yang berupa beberapa macam sayuran, ikan, dan daging ayam. Siang harinya dia kembali ke kontrakannya di Balai Berkuak.

Adanya penambangan emas mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat seputar kawasan penambangan. Penghasilan harian mereka meningkat.Baik masyarakat lokal di seputar kawasan penambangan maupun yang berasal dari luar daerah bisa membuka warung atau toko kecil di sekitar lokasi penambangan, selain menjual makanan dan minuman,juga menyediakan kebutuhan sembako bagi para penambang. Pekerjaan sebagai penjual bahan bakar (solar khususnya) juga memperoleh keuntungan yang tidak sedikit. Warga pemilik tanah yang dikerjakan para penambang juga mendapatkan pemasukan dari sewa tanah. Mereka bisa mendirikan atau merenovasi rumah, membiayai anak anak sekolah, membeli alat-alat elektronik,berobat, membeli sepeda motor dan meniti masa depan yang lebih baik. Faktanya,pembukaan lokasi penambangan telah menciptakan lapangan kerja baru bagi mereka yang ingin memperbaiki hidup.
Pak Lontek, salah seorang warga Desa Lombak menuturkan,”Dulu sebelum masuknya tambang emas,desa kami sepi. Sekarang dah ramai,rumah rumah banyak yang bagus-bagus. Saya bisa bikin rumah ini juga hasil dari kerja emas…”
Rumah Pak Lontek memang terbilang bagus apalagi untuk ukuran rumah di kampung pedalaman.
Meskipun belum terjangkau jaringan listrik, barang – barang elektronik seperti tv,kulkas,kipas angin, ataupun mesin cuci bukanlah barang-barang baru bagi mereka. Rumah-rumah juga diterangi lampu-lampu listrik yang berasal dari genset atau dinamo yang digerakkan diesel.

Sejumlah penambang emas juga menjadikan pekerjaannya sebagai batu loncatan mengumpulkan modal untuk bekal masa depannya. Bahkan tak sedikit para penambang emas yang telah memiliki cukup modal beralih menjalankan bisnis, dan biasanya menjadi wirausahawan yang berhasil. Ada juga penambang yang menggunakan hasilnya sebagai penambang untuk membeli atau merawat kebun karet/kelapa sawit di kampungnya, agar suatu saat mereka “pensiun” sebagai penambang bisa menikmati hasil kerja mereka.
Penambangan emas tanpa ijin (PETI) sedikit banyak telah memberikan dampak pada perekonomian masyarakat, menciptakan lapangan kerja baru bagi pengangguran tidak kentara (khususnya), dan meningkatkan kesejahteraan hidup menjadi lebih baik bagi para penambang itu sendiri maupun bagi masyarakat sekitar kawasan penambangan. Di sisi lain, penambangan emas juga menimbulkan dampak buruk bagi lingkungan, kerusakan hutan dan sumber air bersih, mengotori sungai dan yang lebih parah air sungai berikut ikan yang ada di dalamnya terkontaminasi air raksa (merkuri). Para penambang emas juga menyadari kerusakan yang mereka timbulkan. Senyatanya,PETI masih-tetap menghasilkan pertarungan ideologi,so, mana yang harus diutamakan terlebih dahulu urusan perut manusia atau dampaknya terhadap kerusakan lingkungan..?

Iklan

6 responses

  1. […] Izin (PETI) tidak saja menimbulkan dampak lingkungan dan dampak ekonomi (baca posting sebelumnya : PETI Merusak Lingkungan, Menunjang Ekonomi), tetapi juga mempunyai dampak sosial pada perilaku masyarakat. Baik perilaku para penambang emas […]

    Suka

  2. Selalu miris dengan aspek lingkungan PETI dan cemaran Hg, dan ini saya ikutan belajar dari amatan lapang langsung.

    Suka

    1. betul,mbak. penambangan emas selalu dihadapkan pada dua sisi, satu sisi penambang mendapatkan emas,di sisi lain juga menimbulkan rentetan dampak lingkungan yang berlangsung lama..

      saya bukan hanya mengamati langsung,lha wong juga melu2 jadi penambang kok..hehe

      Suka

  3. baca blog njenengan ini beneran bawa banyak ilmu baru loh Kang. Salut! 😀

    Suka

    1. mungkin itulah tujuan utama dibuatnya blog, utk saling berbagi pengalaman, baik cerita yg biasa pengalaman hidup sehari hari ataupun, atau apa pun isi blog seseorang pastinya membawa “ilmu baru” bagi orang lain yg membacanya…
      sebaliknya, membaca blog Dani saya juga banyak mendapati hal2 baru yg dengan sebaik baiknya berusaha saya jadikan sebagai “ilmu baru” dlm hidup saya..

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: