SCP : Permasalahan Khas di Lokasi PETI

Maraknya Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) tidak saja menimbulkan dampak lingkungan dan dampak ekonomi (baca posting sebelumnya : PETI Merusak Lingkungan, Menunjang Ekonomi), tetapi juga mempunyai dampak sosial pada perilaku masyarakat. Baik perilaku para penambang emas itu sendiri maupun perilaku masyarakat sekitar wilayah penambangan.

Permasalahan khas para penambang selain diburu razia aparat dan penyakit, adalah kehidupan malam para penambang di lokasi PETI. Selain itu juga bagaimana para penambang mampu mengelola pendapatan mereka secara baik dan benar. Namun saya lebih tertarik untuk membedah sedikit tentang kehidupan malam para penambang.

Disetiap lokasi penambangan biasanya terdapat banyak kantin yang menyediakan berbagai makanan dan minuman. Bukan saja menjual minuman ringan seperti cola atau soda, tetapi umumnya kantin-kantin ini menjual minuman keras, dari bir, arak tradisional dan aneka minuman keras lainnya.
Setiap kantin biasanya dijaga oleh dua atau tiga wanita muda berusia 17-18 tahun, bahkan ada yang masih seusia SMP. Dengan dandanan yang menor dan pakaian seksi,mereka membaur dengan para pengunjung kantin, tugas mereka menemani mereka minum terus. Sebagai pelengkap suasana, di kantin disediakan juga karaoke dan diputar musik haouse dari speaker besar. Suara dentuman musik house yang menghentak saling beradu antar kantin yang berjejer. Listriknya darimana..? Listrik berasal dari genset atau dinamo yang digerakkan mesin diesel.
Di kantin (meski tidak semuanya) juga menyediakan kamar khusus untuk bercinta. Hmmm..!
Tidak takut penyakit..??
“Kan ada pengaman, Bang !” ujar Hen menjelaskan.

Para pelayan kantin mendapatkan uang dari tamu dengan cara mengambil selisih penjualan  minuman. Besarnya selisih penjualan yang para pelayan kantin ambil tergantung siapa yang minum di kantinnya. Misalnya, pemilik kantin menetapkan harga Rp. 30 ribu untuk sebotol bir, jika yang minum seorang bos tambang, pelayan kantin bisa menjual bir tadi dengan harga Rp 80 ribu. Jika yang minum hanya buruh/penambang biasa, pelayan bisa menjualnya dengan harga lebih rendah dibanding harga yang dia berikan kepada bos tambang. Semakin banyak minuman yang dia jual, semakin besar juga pendapatan pelayan kantin. Apalagi jika pelayan kantin tersebut merelakan diri menjadi pemuas nafsu syahwat para penambang nakal dan hidung belang.

Praktek perjudian juga marak menghiasi dan melengkapi kehidupan malam para penambang. Yang paling banyak adalah permainan judi dadu yang digoncang para bandar. Jika malam minggu datang, lapak-lapak judi lebih ramai dikerumuni para pemasang taruhan daripada malam hari-hari lain. Sebab biasanya para penambang mendapatkan ‘jatah pinjaman uang malam minggu’ dari bos-bos mereka. Parahnya, diantara para pemasang juga terdapat anak-anak belasan tahun yang turut mengadu untung di meja judi.
Tak jarang pula perkelahian antar penambang mewarnai kehidupan malam para penambang. Dalam keadaan mabuk karena menenggak minuman keras, sangat rentan timbul perkelahian yang dipicu masalah sepele. Hanya karena tidak ditemani pelayan kantin atau tersenggol pengunjung lain, tak segan mereka saling baku pukul. Bahkan, peredaran obat-obatan terlarang dan narkoba sudah bukan rahasia lagi di kalangan penambang emas. 

Penambangan emas tanpa izin juga rawan konflik memperebutkan lahan penambangan. Baik antar penambang emas itu sendiri, maupun antar pemilik tanah yang saling klaim lahan yang ditambang sebagai lokasi/tanah mereka.  Biasanya konflik antar pemilik tanah seputar masalah batas, namun seringkali berakhir damai dan saling sepakat mengenai batas masing-masing. Perebutan batas tanah ini menjadi penting sebagai acuan untuk memungut “pajak” sewa tanah pada para penambang. Besarnya pungutan bervariasi, tergantung kesepakatan antara pemilik lokasi dengan para bos tambang. Tapi biasanya pungutan ditetapkan sepihak oleh pemilik lokasi.

Kehidupan malam penambang sungguh ironis dengan apa yang mereka kerjakan siang hari. Para penambang seperti tak sayang berfoya-foya dengan uang mereka. Padahal untuk mendapatkannya, mereka harus bertaruh nyawa menggali tanah membuat lobang yang kedalamannya bisa mencapai belasan meter. Tak sedikit di antara penambang emas yang saat pulang ke kampung halaman hanya membawa bungkusan berisi pakaian dan celana doang. Meski tak semua penambang emas berperilaku seperti yang telah digambarkan di atas, tak sedikit pula penambang yang benar – benar bekerja keras di siang hari dan tak menghiraukan sama sekali riuhnya kehidupan malam di lokasi PETI.
Kehidupan malam para penambang akan terus menggeliat seiring dentum musik house yang menggema menyemarakkan malam pekat di tengah rimba, selama deru suara mesin diesel masih saling beradu membelah langit di siang hari dan lumpur pekat masih mengalir bersama butir – butir emas dari perut bumi. Seberapapun besarnya pendapatan dari menambang emas tidak akan ada maknanya jika tidak dibarengi dengan ketrampilan mengelola keuangan. Masyarakat (para penambang, bos tambang, maupun masyarakat sekitar lokasi PETI) tetap harus disadarkan agar tidak tenggelam dalam perjudian, prostitusi, seks bebas, dan mengkonsumsi minuman beralkohol yang tidak saja merusak kocek, tetapi juga merusak kepribadian manusia. Kecenderungan buruk yang menghancurkan pribadi dan keluarga harus ditinggalkan. Tetapi siapa yang harus bertanggungjawab atas ini semua.? Saling tuding apalagi saling menyalahkan tentu bukan solusinya. Ini masalah perilaku,dan mengubah perilaku tentu tak semudah membalikkan telapak tangan.

*

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: