Monthly Archives: Oktober, 2014

Ide Ngeblog Dari Foto

Bener juga, ternyata foto bisa menghasilkan ide postingan di blog. Saya baru tahu itu (sekaligus menyadari, #telat banget ya..?) setelah kemarin baca salah satu postingan di blog “duniaely.com”.
Terima kasih buat mbak Ely sang empunya blog sudah berbagi tulisan inspiratif.

Dari sekedar foto yang keliatannya biasa saja, ternyata bisa bercerita juga. Foto/gambar juga bisa digunakan untuk menyampaikan pesan. Bisa juga membangkitkan kenangan ketika memandangnya, baik kenangan manis,asem,asin, maupun kenangan pahit sekalipun.. Salah satunya foto singkong rebus ini…..

image

Ayo buruan mumpung masih anget..!!

Sekian puluh tahun lalu singkong ini jadi makanan pokok saya dan adik-adik saya saat kecil dulu hingga tumbuh remaja. Bukan cuma direbus begitu saja. Oleh Simbok, singkong diolah menjadi  thiwul atau oyek. Biasanya oleh Simbok, thiwul, yang berasal dari gaplek  tadi dicampur dengan sedikit beras. Sedikit sekali berasnya, bahkan sangat sedikit….sehingga begitu sudah masak dan berwujud nasi, malah seperti kunang – kunang pada malam hari karena nasi thiwul biasanya berwarna gelap/agak kehitaman kontras sekali dengan nasi dari beras yang warnanya putih. Paling enak, nasi thiwul ini digulat dengan kelapa parut. Yammmmyy..gurihnya.

Menyedihkan kalau mengingat masa kecil hingga remaja dulu. Tapi saya tetap bangga kok, meskipun besar serta tumbuh dari gaplek dan oyek. Banyak yang bilang kalau nasi OYEk itu artinya orang yang ekonominya kurang.

Tapi memang bener kok.!

Berikut ini…adalah foto tempe.

image

Siapa yang nggak kenal tempe. Makanan ini sepertinya sudah menjadi menu makanan yang wajib ada di dapur, terutama orang Jawa.

Dulu tempe seringkali diidentikkan sebagai makanan rakyat kelas bawah yang dengan mudah dijumpai di warteg – warteg. Tapi sekarang sudah banyak juga restoran yang menyajikan tempe sebagai menu hariannya.
Sayangnya, kebanyakan dari kita masih ragu untuk mengangkat derajat tempe menjadi makanan bergengsi. Yah, paling tidak bisa sederajat dengan ayam goreng tepung, misalnya. Padahal tempe kaya juga manfaat lho. Selain tidak mengandung duri, tempe juga tidak menghasilkan tulang belulang yang bisa mengundang tikus. Heehehe…. (#Yuk_GemarMakanTempe………!)

Kita juga masih suka memelihara kebiasaan meremehkan tempe dan begitu yakin menggambarkan keadaan mencla-mencle atau inkonsistensi dengan “esuk dhele sore tempe” (pagi kedelai sore tempe ). Kenapa..???
Satu lagi, mengapa kita juga masih sering menganalogikan tempe untuk menggambarkan seseorang dengan karakter kepribadian lemah : “Mental tempe,Lu..!!”

Nah,lo.??

Iklan
%d blogger menyukai ini: