(ber)Terima kasih itu Penting…

Ada peristiwa beberapa hari lalu yang lupa belum saya tuliskan sebagai bahan pembelajaran ; utk saya khususnya..
Seorang ibuk-ibuk, setengah tua lah, entah dari arah mana, karena saya kurang memperhatikan, ujug-ujug sudah berdiri di depan gerobak tmpat saya jualan, tampak tergopoh dengan dua buah kardus ukuran lumayan besar.
” Mas, nitip kardus ini ya..” berkata si ibu entah kepada siapa. Saya tolah toleh kiri kanan nggak ada orang lain, kecuali saya sama si ibu. Berarti yang dimaksud “Mas??” oleh si ibu itu adalah saya.Pikir saya.
” Oh,iya, Bu.Silahkan taruh aja di bangku situ..!’ jawab saya mengiyakan sekaligus menyetujui permintaan si ibu.
“Cuma sebentar kok,Mas. Biar di sini saja. ” berkata si ibu itu lagi sambil meletakkan kardus kardusnya ke atas tanah, plus sekantong kresek hitam besar bawaan lainnya di atas diletakkannya pula di atas kardus. Beres. Lalu si Ibu berlalu menuju warung makan,mungkin ingin membeli lauk pauk atau sayuran siap santap utk dibawa pulang. Setelah itu saya tidak memperharikan lagi..
Tak berapa lama, si Ibu muncul lagi. Di tangan kanannya tertenteng kresek kecil warna hitam. Tampaknya dugaan saya benar, si ibu membeli lauk pauk atau sayuran siap santap. Itu terlihat dari kreseknya yang agak ‘klimis’ bekas kuah minyak.
Dibelakangnya menyusul seorang gadis tanggung mengendarai sepeda motor matik. Kelihatannya calon penjemput si Ibu, sepertinya anaknya. Agak mirip soalnya.heheee
Si Ibu terlihat mengambil kardus-kardusnya yang tadi dititipkannya. Lalu menumpuknya ke atas jok motor. Sementara si pengemudi tetap nangkring di motor sambil ‘njagani’ supaya motor tidak tumbang. Kardus selesai tersusun, si Ibu itu kemudian nyingklak ke atas jok, sambil tangannya memegangi kardusnya. Sedetik kemudian…ndru
uuunnnnnnnn…! motor berikut kedua penumpang plus kardus kardus itu melaju..
Yang saya heran, kok ya si Ibu itu nggak ada ‘terima kasih terima kasih’ nya babar blas. Mesem sithik we ora. Hahaaha…Jiaaannn wong kok nggak ada basa basinya sama sekali.hehee
Mungkin si ibu tadi lupa “berterima kasih” karena sedang buru-buru, begitu pikir saya berusaha ‘tampil beda’ dengan berprasangka baik sama si ibu.
Persoalannya, bukan saya “sebagai orang yang merasa ketitipan” harus dihargai atau dihormati, atau karena ucapan ‘terima kasih’ itu penting buat saya. Juga bukan karena si Ibu ‘sebagai penitip’, dari segi usia jelas jauh lebih tua jadi ‘merasa’ tidak perlu sekedar mengucap matur nuwun kepada yang lebih muda.
Lalu saya mikir..”bagaimana ya perasaan si ibu jika diperlakukan sama oleh saya..?? Bagaimana pula sikap saya selama ini terhadap orang lain (selain si ibu itu)..??? Apa sama kah..??
Jangan2 apa yang saya alami adalah sebagian dari akumulasi perbuatan buruk yg saya telah lakukan kepada orang lain..??
Ah, yobenlah.. # akurapopo . Toh ini bisa jadi sebuah pengalaman sekaligus pembelajaran bahwa (ber)terima kasih dan apalagi (ber)etika itu penting, dan melatih sensitifitas nurani juga perlu……

Iklan

3 responses

  1. Berterimakasih itu memang sangat penting … untuk respect kepada yang sudah berjasa
    Motivator Semarang

    Suka

  2. Assalaamu’alaikum wr.wb, mas Zainal…

    Alhamdulillah, dapat bersilaturahmi di sini yang pastinya dihidang dengan informasi yang berbobot dan mencerahkan. Iya, sepatutnya ucapan terima kasih diberi oleh ibu tersebut, namun bersangka baik seperti yang mas Zainal tulis di atas adalah sifat yang mulia.

    Mungkin Allah ingin menunjukkan kita sesuatu yang pernah kita lakukan. tentu itu suatu pengajaran buat kita, ya. Saya juga mengambil pengajaran dari pengalaman mas Zainal ini. Mudahan kita dapat mengubah sikap kita di masa akan datang dalam urusan menghargai manusia lain.

    Salam Maal Hijrah 1437 dari Sarikei, Sarawak.

    Suka

    1. wa’alaikum salaam wr.wb..mBak Siti Fatimah..
      .
      Terima kasih sudah berkenan mampir ke sini. Menyambung silaturahmi yang barangkali hanya dapat kita lakukan melalui media blog ini. Semoga kelak juga dapat bersilaturahmi di dunia nyata. Aamiin.
      .
      Sependapat dengan Mbak Siti, barangkali dengan cara itulah_ bertemu dengan si Ibu, Allah menegur kita (khususnya saya pribadi) agar lebih pandai berempati terhadap orang lain terutama dalam hal mengucapkan terima kasih, meski hanya untk suatu pertolongan yang mungkin kita anggap sepele.
      .

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: