Monthly Archives: Oktober, 2015

(ber)Terima kasih itu Penting…

Ada peristiwa beberapa hari lalu yang lupa belum saya tuliskan sebagai bahan pembelajaran ; utk saya khususnya..
Seorang ibuk-ibuk, setengah tua lah, entah dari arah mana, karena saya kurang memperhatikan, ujug-ujug sudah berdiri di depan gerobak tmpat saya jualan, tampak tergopoh dengan dua buah kardus ukuran lumayan besar.
” Mas, nitip kardus ini ya..” berkata si ibu entah kepada siapa. Saya tolah toleh kiri kanan nggak ada orang lain, kecuali saya sama si ibu. Berarti yang dimaksud “Mas??” oleh si ibu itu adalah saya.Pikir saya.
” Oh,iya, Bu.Silahkan taruh aja di bangku situ..!’ jawab saya mengiyakan sekaligus menyetujui permintaan si ibu.
“Cuma sebentar kok,Mas. Biar di sini saja. ” berkata si ibu itu lagi sambil meletakkan kardus kardusnya ke atas tanah, plus sekantong kresek hitam besar bawaan lainnya di atas diletakkannya pula di atas kardus. Beres. Lalu si Ibu berlalu menuju warung makan,mungkin ingin membeli lauk pauk atau sayuran siap santap utk dibawa pulang. Setelah itu saya tidak memperharikan lagi..
Tak berapa lama, si Ibu muncul lagi. Di tangan kanannya tertenteng kresek kecil warna hitam. Tampaknya dugaan saya benar, si ibu membeli lauk pauk atau sayuran siap santap. Itu terlihat dari kreseknya yang agak ‘klimis’ bekas kuah minyak.
Dibelakangnya menyusul seorang gadis tanggung mengendarai sepeda motor matik. Kelihatannya calon penjemput si Ibu, sepertinya anaknya. Agak mirip soalnya.heheee
Si Ibu terlihat mengambil kardus-kardusnya yang tadi dititipkannya. Lalu menumpuknya ke atas jok motor. Sementara si pengemudi tetap nangkring di motor sambil ‘njagani’ supaya motor tidak tumbang. Kardus selesai tersusun, si Ibu itu kemudian nyingklak ke atas jok, sambil tangannya memegangi kardusnya. Sedetik kemudian…ndru
uuunnnnnnnn…! motor berikut kedua penumpang plus kardus kardus itu melaju..
Yang saya heran, kok ya si Ibu itu nggak ada ‘terima kasih terima kasih’ nya babar blas. Mesem sithik we ora. Hahaaha…Jiaaannn wong kok nggak ada basa basinya sama sekali.hehee
Mungkin si ibu tadi lupa “berterima kasih” karena sedang buru-buru, begitu pikir saya berusaha ‘tampil beda’ dengan berprasangka baik sama si ibu.
Persoalannya, bukan saya “sebagai orang yang merasa ketitipan” harus dihargai atau dihormati, atau karena ucapan ‘terima kasih’ itu penting buat saya. Juga bukan karena si Ibu ‘sebagai penitip’, dari segi usia jelas jauh lebih tua jadi ‘merasa’ tidak perlu sekedar mengucap matur nuwun kepada yang lebih muda.
Lalu saya mikir..”bagaimana ya perasaan si ibu jika diperlakukan sama oleh saya..?? Bagaimana pula sikap saya selama ini terhadap orang lain (selain si ibu itu)..??? Apa sama kah..??
Jangan2 apa yang saya alami adalah sebagian dari akumulasi perbuatan buruk yg saya telah lakukan kepada orang lain..??
Ah, yobenlah.. # akurapopo . Toh ini bisa jadi sebuah pengalaman sekaligus pembelajaran bahwa (ber)terima kasih dan apalagi (ber)etika itu penting, dan melatih sensitifitas nurani juga perlu……

Iklan

Akhirnya Makan Soto Juga….

Weehhh…lama tidak ngeblog rasanya grogi dan gimana gitu.Bingung mau nulis apa.. Tulisan dari status pesbukku ini saja sebagai awal kebangkitan semangat ngeblog lagi…

========
Mbok Wedok sedang sibuk di ‘pawon’ menyiapkan sesuatu untuk makan kemalaman. Bunyi ‘suthil’ dan wajan beradu bak irama orkestra mengiringi lagu keroncong yang syahdu mendayu-dayu dari perut dua pasang mata yang sabar menunggu : Bakulrujak dan Anaklanang nya. Aroma bawang goreng yang wangi semakin menggugah selera. Tak sabar rasanya menanti lebih lama. Ah, apa gerangan yang sedang dimasak Ibunda tercinta..??? Hahaaa.
“Pak, aku ambilin piringnya ya .?? ” ujar Anaklanang membuyarkan lamunan Bakulrujak yang sedang membayangkan lezatnya menu makan malam kali ini. Soto. Hmmm..Nyummmmii
ii…
Tanpa terasa ‘iler’ pun jatuh menetes membasahi pipi. Hohooo.(membasahi kaki ding..). Belum sempat menyahuti apa yang dikatakan Anaklanang, Mbokwedok keburu datang dengan semangkok soto di tangan. Wah..pucuk dicita ulam tiba..Perut sudah lapar soto pun tersedia, menunggu eksekusi dengan seksama dan segera. Tapi, baiknya menunggu Mbokwedok dan Anaklanang yang kembali mengambil soto bagian mereka. Ah, itu mereka tiba. Enaknya punya ‘pawon’/dapur lima langkah saja ya begini. Tak perlu menunggu lama utk segera menikmati soto..Soto Tanpa lontong tanpa nasi. Soto saja..Sruput dulu kuahnya..Wuaahhhhh…sed
aaaapp..!
“Enak ya, Pak.!” Anaklanang berkomentar memuji masakan Mbokwedok, Ibundanya.
“Iya..Ayo lekas dihabiskan….!”
Sryuuppp…sryuupp..hmmm..
Sruputan demi sruputan kuah soto terlewati, semangkok soto tuntas dinikmati.” Terima kasih Tuhan, atas kiriman soto -Mu hari ini …meski dalam bentuk mi instan. Akhirnya kami makan soto juga. Aamiin.
# Bakulrujak

%d blogger menyukai ini: