Monthly Archives: Juli, 2012

Sisa Obrolan

Sejujurnya saya sedang tidak punya ide untuk menulis.Seperti biasa,selalu nano-nano pikirannya kalau mau menulis.Mau menuliskan tentang menu buka puasa tadi sore yang ‘ajeg’ kok ya kebangeten rasanya.Masak iya menu ‘sambal korek’ dan lalapan daun singkong rebus ditambah secangkir teh kurang gula mau dibeber-beberkan jadi postingan…
(lha sing mbok tulis ki opo,Dul…! Haha.)

Tidak terasa ya sudah sepertiga pertama Ramadhan dilalui,sementara belum ada peningkatan kualitas puasanya.(Setidaknya itu yang sedang saya pikirkan. Bagaimana tidak ?? Coba pikir,puasanya cuma sebatas menahan lapar,dahaga dan syahwat,thok.!! Tidak lebih.! Saya kadang mikir,lha kalau puasa cuma menahan rasa lapar,haus sama nggak berhubungan suami-istri kambing juga bisa. Iya,kan ??
Kambing jantan dan betina dipisahkan,dikasih batas di kandang terus nggak dikasih makan minum seharian dari subuh sampai magrib. Nggak makan,nggak minum,nggak kawin tuh kambing..Puasa.!
Sama dengan…..(sambil nunjuk diri saya sendiri..!!).
Konyol kan.? Ya jelas konyol kalau puasa cuma seperti itu.Cuma dapat lapar sama haus.Nilainya kurang.Kalau bisa ditulis di raport paling-paling nilainya MERAH.
Apa nggak ‘tragis ? Seharian ‘mati-matian’ menahan diri berpuasa cuma dapat nilai merah.
Bagaimana mau dapat nilai baik coba,ngaku sedang puasa tapi mulutnya masih ngomongin tetangga,kupingnya ikut-ikutan nimbrung waktu dengar gosip terbaru,matanya masih plirak-plirik dan ijo waktu liat yang ‘kinclong dan klimis’,,hatinya…?? Wow..! lebih dahsyat lagi..bukannya belajar merasa bagaimana derita fakir miskin yang ‘kekurangan’ makan,eee..malah sibuk memikirkan ‘kekurangan’ menu buat buka puasa nanti sore.Sudah ada cendol masih kurang belum ada sirupnya,nasi lengkap sama lauk dan sayur masih kurang lengkap belum ada cuci mulutnya…sibuk cari jajanan..
Waktunya kerja malah ngiler,katanya lemes.:)
Lha terus kapan kualitas puasanya meningkat kalau dari Ramadhan ke Ramadhan begitu ??

Okelah kuantitasnya dapat.Sebulan penuh puasa nggak ada bolongnya.Tapi masa iya mau begitu terus.?? Dari tahun ke tahun tidak ada pertambahan nilai. Puasanya hanya dzohirnya saja.Jasmaninya thok.Batinnya tetap tumpul..pul..!
Katanya hidup harus to be excellen [sok inggris-inggrisan..hehe.,padahal ora mudheng..!],bertambahnya kebaikan sesudah kebaikan.
Bertambahnya nilai.
Lha kalau tetap ‘aku masih seperti yang duluu…’(lagu..) ya jangan mimpi dapat predikat takwa seperti yang tercantum dalam Al Quran “la’allakum tattaquun…” iya kan..??

*coretan ini cuma sisa obrolan ringan dari saya,untuk diri saya sendiri..mudah-mudahan tidak ada kesamaan ‘isi’ dengan pembaca…
Seperti itulah puasa kita..(eh salah !) saya maksudnya..
Parah kan..??
Anda ??

Tradisi Bakar Petasan di Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan memang penuh cerita. Salah satunya adalah kejahilan anak-anak bahkan yang sudah dewasa juga untuk menyalakan petasan pada bulan Ramadhan.Menjelang memasuki bahkan hingga akhir ramadhan bunyi petasan selalu menghiasi suasana bulan ramadhan yang seharusnya bulan penuh kekhusyukan dan kedamaian. Entah berawal darimana yang jelas tradisi bakar uang ini sudah mengakar dan membudaya bagi kalangan anak anak atau kawula remaja dan beberapa ‘orang dewasa’ Indonesia. Dentuman
petasan yang saling bersahutan menggema di sana-sini.Ada yang bersorak kegirangan karena ‘ledakan’,ada juga yang merasa terganggu dengan suara petasan yang memekakan telinga itu.

Menurut saya pribadi, hal ini merupakan suatu kesalahan yang umum dilakukan, bahkan menjadi adat dan kebiasaan yang mungkin menjadi suatu hal yang wajib dilakukan untuk menyambut bulan Ramadhan yang banyak tersebar luas di tengah-tengah masyarakat.Jelas model ‘penyambutan bulan Ramadhan semacam ini sudah melampaui batas dari tuntunan yang disyariatkan.

Sebenarnya kalau ditinjau dari sisi syariat,membunyikan/membakar petasan ini jelas-jelas dilarang karena termasuk menghambur-hamburkan harta untuk sesuatu yang tidak berguna.Disamping perbuatan ini juga mengganggu orang lain yang sungguh-sungguh sedang khusyuk beribadah di bulan Ramadhan.Padahal,setiap rupiah yang kita keluarkan/belanjakan akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah.

Saya teringat tahun lalu ketika seorang teman dengan bangga bercerita bahwa dia menghabiskan hampir satu juta rupiah untuk membeli petasan dengan aneka jenis dan ukuran.Dalam hati saya berkata,”Daripada dibelikan petasan,mendingan tuh duit kamu sedekahkan sama aku..!” (hehehe…! ngarep[dot]com.). Sayang kan kalau uang sebanyak itu dibuang percuma dan dibakar hanya untuk menuruti hawa nafsu.sangat rugi jika bulan Ramadhan diisi dengan hal-hal yang malah banyak mendatangkan madlaratnya.Bayangkan kalau sampai tangan atau anggota badan lainnya terkena ledakan petasan,apa nggak berabe??

Kendati petasan memiliki arti tersendiri bagi anak-anak dan para remaja, terutama orang dewasa yang telah melewati masa-masa itu perlu diperingatkan kepada anak-anak mengenai petasan bila hal itu dirasa sudah berlebihan.Sudah saatnya para orangtua memastikan buah hati anda diberi pengertian agar memanfaatkan momen bulan puasa dengan arif dan bijak.*

Makan,Zikir,dan Syukur

Makan adalah kegiatan memasukkan makanan atau sesuatu ke dalam mulut untuk menyediakan nutrisi bagi binatang dan makhluk hidup, dan juga energi untuk bergerak serta pertumbuhan, yaitu
dengan memakan organisme. Makhluk karnivora memakan binatang, makhluk herbivora memakan tumbuhan, sedangkan omnivora memakan keduanya.(Wikipedia).

Berbicara masalah makan menurut penelitian selain tidak boleh tergesa-gesa, jumlah kunyahannya pun setiap suapan sebaiknya 36 kali. Selain membantu meringankan kerja system pencernaan, yang menariknya lagi frekuensi pengunyahan yang banyak ini akan merangsang sinyal rasa kenyang dari susunan saraf pusat atau otak. Jadi, kita pun lebih mudah merasa kenyang dan tidak akan terlalu banyak dalam mengkonsumsi makanan.

Makan tidak saja dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan
biologis dan kebutuhan
kenikmatan dunia semata, tetapi juga sebagai sarana ibadah.Makan haruslah diniatkan untuk menjaga
ketaatan yaitu berharap bahwa dengan makan akan menjaga tetap konsisten menjadi orang yang takwa.Dengan niat ibadah itu berarti kita bisa mengurangi semangat nafsu kebinatangan dan membawa pada sikap totalitas kerelaan terhadap rezeki yang diberikan Allah kepada kita (qana’ah).Semua amal perbuatan itu akan bermuara kepada niat,anjuran mengenai niat ini sesuai dengan hadist Nabi Shollallaahu ‘alaihi wa sallam yang artinya, “Sesungguhnya amal-amal
perbuatan itu bergantung pada niatnya, dan bagi setiap orang adalah apa yang ia niatkan”. (HR.Bukhari)
.

Kita juga dianjurkan untuk tidak tergesa-gesa saat makan dan mengambil secukupnya sehingga dapat di konsumsi habis, jangan tersisa sedikit pun,walau hanya berupa sebutir nasi yang menempel di jari tangan umpamanya, karena hal itu menjadi bentuk pemubaziran yang dilarang. Dari Jabir katanya,Rasulullah SAW menyuruh membersihkan sisa makanan yang di piring maupun yang di jari seraya bersabda: “Sesungguhnya kalian tiada mengetahui di bagian manakah makananmu yang mengandung berkah”.(HR. Muslim).

Rasulullah SAW menegaskan bahwa penyakit itu banyak bersumber dari makanan. Karena itu kita harus mengatur isi perut kita agar tidak seluruhnya terisi makanan.Seperti dinyatakan dalam sebuah hadist,Tidak ada suatu tempat yang dipenuhi oleh anak Adam yang lebih buruk daripada perutnya.Cukuplah bagi anak Adam itu beberapa suap makanan saja,asal dapat menegakkan tulang rusuknya. Tetapi bila ia terpaksa melakukannya, maka hendaklah sepertiga ( dari perutnya itu) diisi dengan makanan,sepertiganya dengan minuman dan sepertiganya lagi dengan nafasnya (udara, dikosongkan)”(HR. Imam Ahmad dan Turmudzi).Jika kita menela’ah lagi tentang makanan, dalam sebuah ayat Allah SWT berfirman, “Maka
hendaklah manusia itu
memperhatikan makanannya”.
(QS. ‘Abasa, 80 : 24).

Sebenarnya banyak sekali hal yang dapat kita perhatikan dari makan. Tapi mari mulai dari mana datangnya makanan itu di hadapan kita?.Katakanlah di hadapan kita ada nasi,lha berarti ada yang menanak nasi, sebelum itu pastilah berupa beras yang berarti ada yang menjualnya,sebelumnya ada yang memanen, menanam, kemudian tidaklah
mungkin jika tidak ada air,
berarti Allah harus menciptakan hujan, tidaklah mungkin jika tidak ada awan dan tidaklah mungkin jika tidak ada angin, angin terjadi karena dataran tinggi dan dataran rendah, belum faktor matahari tidaklah mungkin padi menguning jika tidak ada matahari, belum lagi faktor biji-bijian, faktor tanah, jika Allah tidak membelah tanah apa yang terjadi dan sebagainya-dan
sebagainya. Prosesnya sangatlah rumit dan kompleks.
Subhanallah..! Sudah sepatutnya kita bersyukur jika ada makanan di hadapan kita,karena prosesnya yang panjang seringkali kita lupa
bersyukur kepada Allah, malahan mencela makanan dengan mengatakan “Nggak enak,makanan apaan ini?”,atau celaan lain.Padahal,ramuan terlalu asin atau tidak,terlalu manis atau pedas itu salahnya yang memasak.Kenapa makanannya yang dicela??
Apa pun yang dihidangkan di
depan mata kita, makanan
merupakan rezeki dari Allah. Dari Abu Hurairah, ia berkata:”Rasulullah SAW tidak pernah mencela makanan selamanya. Jika beliau suka dimakannya, dan jika tidak suka ditinggalkannya”.(HR.Bukhari dan Muslim).

Satu hal lagimakanan yang kita makan itu tidaklah akan masuk ke perut jika tidak ada gaya gravitasi bumi, artinya tatanan
dan keteraturan langit yang
menyebabkan gaya gravitasipun
Allah atur hanya sekedar untuk kepentingan kita makan. Dan
dalam (QS. Al Jaatsiyah, 45 : 13),
“Dan Dia telah menundukan
untukmu apa yang ada di langit
dan apa yang di bumi semuanya,
(sebagai rahmat) dari padaNYA. Sesungguhnya pada yang
demikian itu benar-benar
terdapat tanda-tanda
(kekuasaan Allah) bagi kaum
yang berfikir”.
Subhanallah. Bagi kaum yang “berfikir.” Atau tafakkarun
artinya bertafakur. Mari kita
tafakuri, dengan makanpun kita bisa berdzikir dalam artian menghadirkan Allah ke dalam benak, agar kita bisa bersyukur dan bertaqorub atau lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Karena itu tidaklah
mengherankan jika kita akan
makan hendaklah kita berdoa; “Ya Allah, berilah berkah dari rezeki yang telah Engkau berikan kepada kami dan jauhkanlah kami dari siksa neraka”.

Inilah kesempurnaan agama Islam,
tata cara makan pun secara
detail dari mulai hakikatnya,
menanam hingga memanennya,
adab & tata caranya, bentuk, rasa dan jenisnya, seluruhnya telah diatur rapih oleh Allah dan RasulNYA. Inilah “diin” atau tata cara kita melakukan keseharian secara selamat sekaligus berserah diri kepada aturan Allah SWT, karena hanya berserah diri kepada Allahlah kita bisa selamat.
Totalitas ketaatan dan
kepatuhan terhadap ajaran yang disandarkan pada prinsip wahyu
akan sangat berpengaruh
terhadap kesejahteraan di dunia dan keindahan diakhirat kelak..

“Alhamdulillaahilladzi
att’amanaa wasaqaanaa waja’alana minal muslimiin” “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kami
makan dan minum, serta
menjadikan kami sebagai orang muslim”

Selamat makan, selamat
berdzikir, dan selamat
bersyukur…..
Semoga tulisan ini bermanfaat, dan menjadi amalan yang baik bagi kita semua, Amin Ya Rabbal
alamin.

*berbagai sumber*

Jalan ke surga itu mudah

Mmm…jalan ke surga atau ke neraka sebenarnya bisa kita merasakannya saat masih hidup.Koreksi saja perbuatan kita,apakah lebih bermanfaat atau merugikan untuk orang lain.?
Melakukan yang diharamkan atau tidak.?
Bisa berada di tempat ibadah atau tidak..?
Banyak bersyukur atau kufur?
Dengan kata lain lebih banyak berbuat kebaikan atau kejahatan sepanjang hidup kita.

Mmm..jalan ke surga itu mudah.
Sebenarnya.
Yaitu belok kanan dan lurus saja walau jalan di situ penuh tanjakan namun
bertahanlah karena Tuhanmu sudah menunggu di sana.Jangan menoleh apalagi belok ke kiri dan jangan pula terlalu ke kanan.
Lurus saja.

Bagaimana..??

%d blogger menyukai ini: